Showing posts with label BUMN. Show all posts
Showing posts with label BUMN. Show all posts

Thursday, December 13, 2018

Berbagi Informasi Seminar Ekonomi Suara Merdeka 2018

PROSPEK BISNIS & INVESTASI JAWA TENGAH
OUTLOOK 2019
Selalu ada kesempatan dibalik kesempitan, sebagai pelaku bisnis waspada dalam mengambil keputusan dan punya strategi dalam mengelola resiko adalah modal penting, selalu siap dan update informasi adalah apa yang tersirat dari apa yang tersurat dalam materi prospek bisnis dan investasi tak hanya pada saat acara di hari H maupun beberapa waktu sebelumnya yang disampaikan oleh para narasumber lewat pemberitaan koran Suara Merdeka. Informasi mengenai arsip seminar harap menghubungi admin 0823 2223 2268

Follow Up Sponsorship Outlook 2019 Suara Merdeka

Pasca Seminar Ekonomi Suara Merdeka di Aston Semarang kemarin Rabu, tanggal 12 Desember mengenai prospek bisnis dan investasi di Jawa Tengah pada tahun 2019 maka hari ini tajuk utama koran "Perekat Komunitas Jawa Tengah" tersebut adalah berita mengenai materi, sekaligus reportase acara yang telah berjalan lancar dengan sukses dan sesuai ekspektasi baik dari pihak penyelenggara, peserta, dan para sponsor yang turut mendukung keberlangsungan acara ini.

Keberhasilan acara ini tentunya tak luput dari peran serta panitia khususnya kerjasama sponsorship yang menjembatani semua pihak terkait. Pihak Suara Merdeka sebagai penyelenggara acara mampu menjalankan tugasnya dengan baik sehingga menghubungkan seluruh stakeholder dalam satu visi-misi bersama dalam rangkaian informasi yang sarat pengetahuan agar para pelaku ekonomi baik lokal dan nasional siap menghadapi tahun depan lewat Jalan Terang menuju 2019.
Selaku partisipan yang mengikuti jalannya acara sejak masih berupa gagasan, ucapan terimakasih turut saya sampaikan karena kedekatan hubungan emosional kepada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, BUMN yang memang Hadir bagi Negeri serta BPR. Restu Artha Makmur, Solusi dan Sahabat buat Rakyat.

Friday, August 31, 2018

Bank Mandiri: "BUMN yang Hadir untuk Negeri"



Gerakan sejarah memerlukan perjuangan yang akarnya berlandaskan semangat idealisme tetapi tindakan berikutnya tetap mengedepankan pelaksanaan yang realistis di semua lini. Jadi bukan lagi hanya sekedar slogan tanpa makna tanpa ada pertambahan nilai. Dari visi berkembang menjadi misi dengan suatu tujuan, kemudian dikerjakan secara sistimatis dengan urutan waktu yang kronologis. Dengan demikian tiap tahapan dapat berjalan secara terukur. Inilah kekuatan sejarah yang mampu memadukan unsur keilmuan secara akademis sekaligus memasukkan faktor seni serta unsur sastra sebagai filosofinya sehingga ia mampu menghidupkan suatu gerakan dengan gelora semangatnya.

Sejak diluncurkan pada perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70 pada 2015, Kementerian Badan Usaha Milik Negara memperkenalkan slogan BUMN Hadir untuk Negeri. Sedangkan jauh sebelumnya entitas BUMN yaitu Bank Mandiri sudah lama menorehkan sejarahnya lewat pelestarian bangunan lama di kawasan kota tua Jakarta berupa Museum Bank Mandiri.

Museum Bank Mandiri merupakan bangunan cagar budaya yang tiang pancangnya mulai dibeton sejak Juli 1929 oleh biro konstuksi NV Nedam (Nederlandse Aanneming Maatshappij) dengan gaya arsitektur Neiuw-Zakelijk dan kelar dibangun pada tahun 1932 yang peruntukan pertamanya digunakan untuk kantor Nederlandsche Handel Maatschappij NV di Batavia serta secara formal diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933 oleh Cornelis Johannes Karel van Aalst, Presiden NHM ke-10 saat itu.

Sejalan dengan perkembangan politik-ekonomi selanjutnya, NHM yang merupakan bank asing milik Belanda dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 5 Desember 1960 yang kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN). Riwayat gedung ini pun berubah menjadi Kantor BKTN Urusan Exim.

Pada era Bank Tunggal atau dikenal dengan masa “Bank Berjuang”, gedung ini pun menjadi bagian dari Kantor Pusat Bank Negara Indonesia (BNI) Unit II bidang Exim sejak 17 Agustus 1965 sampai lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) tanggal 31 Desember 1968. Penggunaan gedung ini sebagai Kantor Pusat Bank Exim berlangsung sampai tahun 1995 atau setelah Bank Exim pindah ke gedung Kantor Pusat yang baru di Jl. Gatot Subroto Kav. 36-38 Jakarta Selatan.

Dengan lahirnya Bank Mandiri tanggal 2 Oktober 1998 dan bergabungnya empat bank pemerintah, Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri. Maka gedung warisan sejarah ini pun beralih menjadi salah satu aset Bank Mandiri dengan berbagai koleksi perbankan diantaranya perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, buku besar, mesin hitung uang, brankas, dan lain-lain. Semua koleksi tersebut terdapat di ruang tata pamer yang didesain menarik sehingga tetap terasa nuansa perbankan tempo dulu yang meskipun kuno tetap terawat hinggakini.


Bila Jakarta dengan kawasan kota tua sudah memperoleh dukungan revitalisasi salahsatu bangunannya oleh Bank Mandiri. Semoga Semarang pun dapat berharap hal yang sama terhadap kota lama peninggalan kolonial di negeri ini. Dukungan organisasi yang besar dari entitas BUMN seperti Bank Mandiri terhadap sejarah bangsa tentu dapat disebut sebagai suatu kehadiran tersendiri bagi negeri, bukan sekedar slogan tetapi sebuah tindakan yang idealis sekaligus realistis. Suatu gebrakan dari Kepala Kantor Wilayah VII Jawa 2, Bapak Mazwar Purnama beserta jajarannya yang berkantor di sekitar kawasan kota lama Semarang dan dekat dengan ikon kota ini Lawang Sewu.

Saturday, May 1, 2010

BUMN tak Produktif Harus Digabung atau Dihapus

Penerimaan dividen dari 142 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ternyata hanya didominasi oleh 25 BUMN besar. Hal ini tentu menjadi PR (pekerjaan rumah) yang harus ditangani Kementerian Negara BUMN.

Lantas apa langkah yang akan diambil agar BUMN pun bisa menguntungkan? Deputi Kementerian Negara BUMN Bidang Usaha Jasa Lainnya, Muchayat, memaparkan rencananya dalam perbincangan dengan wartawan Republika, Yasmina Hasni, dan pewarta foto, Pandega Citrabangsa, berikut ini.Bagaimana Anda menilai kinerja BUMN saat ini?Kinerja BUMN yang di bawah saya ada 37 badan, waktu saya masuk 2006, hampir lebih dari separuhnya mengalami masalah pelik. Baik dari segi cash flow maupun equity-nya bermasalah. Akhirnya, saya coba analisis masalahnya, ternyata ada beberapa yang perlu kita cermati. Pertama ukuran bisnisnya yang tak tepat. Kedua, fixed cost-nya terlalu tinggi. Ketiga, sumber daya manusianya kurang kompeten. Selain itu bidang riset dan pengembangan juga tidak pernah dijadikan alat untuk mengembangkan usaha.Tiga hal tersebut mengakibatkan efisiensi yang rendah. Sehingga tidak kompetitif. Satu contoh misalnya Perusahan Umum Perumahan Nasional (Perum Perumnas), cashflow-nya negatif, jadi rugi terus. Karyawannya terlalu banyak. Selain itu, sektor aneka industri, seperti PT Sandang (Industri Sandang Nusantara, red), Industri Soda Indonesia (ISI) dan PT Iglas juga bermasalah.Setelah saya telaah satu persatu dari prospek bisnisnya, ISI tidak bisa dipertahankan karena market share-nya yang rendah, tidak kompetitif untuk bersaing dengan industri-industri soda. Maka saya sarankan untuk dilikuidasi. Sementara yang lainnya saya seriusi. Yakni PT Iglas, PT Sandang, dan Perumnas.Apa sektor yang harus mendapat perhatian lebih?Dari 142 BUMN, penerimaan dividennya hanya didomisasi oleh 25 BUMN besar. Sementara yang lainnya tidak ada, malah rugi. Maka ke depannya, akan dibuat hingga 40-50 BUMN saja, dengan penggabungan dan penutupan BUMN yang kurang produktif. Karena arahnya seperti itu, maka sejak kini harus dianalisis.Jika diamati, BUMN yang bisa didorong sebagai penghasil devisa itu cukup banyak. Satu contoh misalnya perbankan. Jadi, BUMN yang akan dilaga baik dalam level regional maupun global yakni perbankan, asuransi, pembiayaan.Selain itu perkebunan, jasa konstruksi, dan industri farmasi juga mumpuni. Jasa-jasa lain, misalnya penerbangan, surveyor, kemudian industri-industri berat seperti gas, baja, dan semen pun dianggap mampu bersaing dengan internasional. Maka kita arahkan dorongan ke perusahaan yang ukurannya tepat dan efisiensinya tinggi, sehingga bisa bersaing dengan perusahaan asing. Perusahaan-perusahaan itu juga akan diarahkan pada privatisasi. Sementara yang PSO (Public Service Obligation) dan strategis juga jangan ditinggalkan, namun tidak diberikan dorongan terlalu keras.Lantas, bagaimana persaingan antara BUMN dan asing?Kita belum bisa mengukur, karena bisnisnya BUMN sekarang belum terukur. Apakah Semen Gresik dengan kapasitas sekitar 7 juta ton itu sudah ukuran pabrik yang tepat? Itu kan belum bisa diukur. Yang jelas ketika Semen Gresik itu kita invetasikan, ternyata tumbuh. Maka yang terpenting kini bukan kapasitasnya, tapi untungnya. Harga sahamnya juga tumbuh, nah sekarang mulai ekspansi. Jadi masih banyak BUMN yang bisa...


Artikel diambil publikasi online Koran Republika.
05 Oktober 2009 pukul 01:02:00
Hasil Wawancara dgn Deputi Kementrian BUMN.

Penyadur kembali: Koko Jorganizer, 024.7060.9694

Followers