Showing posts with label Appreciative Inquiry: Jalan setiap orang untuk mengubah dunia. Show all posts
Showing posts with label Appreciative Inquiry: Jalan setiap orang untuk mengubah dunia. Show all posts

Friday, December 31, 2010

Appreciative Inquiry: Jalan setiap orang untuk mengubah dunia

Catatan: Ini adalah kata pengantar buku the power of appreciative inquiry yang diterbitkan oleh B-first (Mizan Grup) pada awal 2007. Selamat menikmati!


If you can dream it, you can do it. –Walt Disney

Mengapa Gandhi dapat menggerakkan rakyat India? Mengapa Sukarno dapat menggerakkan rakyat Indonesia? Mengapa Martin Luther King didengarkan dan diikuti oleh jutaan orang?

Ada banyak penjelasan atas pertanyaan-pertanya an tersebut seperti mereka adalah manusia pilihan tuhan atau kharisma mereka yang besar. Tetapi, ada persamaan yang jelas diantara mereka, yakni hadir dengan membawa inspirasi kepada masyarakatnya. Dengan kekuatan kata-kata, mereka menyentuh hati, menggugah kesadaran, dan memberi pencerahan kepada orang-orang disekitarnya. Dengan kekuatan kata-kata, mereka mewujudkan apa yang tidak mungkin menjadi suatu kenyataan. Bahkan, jauh setelah meninggal, kisah mereka tetap menjadi inspirasi bagi ribuan bahkan jutaan orang, mencerahkan mereka yang tenggelam dan tak berdaya dalam kekelaman kehidupan.

Inspirasi mereka telah menjadi kekuatan pengubah dunia. Bukan karena rasionalitas dibalik inspirasi tersebut, tetapi inspirasi itu menyentuh hati, emosi, dan jiwa orang-orang yang mendengarkannya. Inspirasi tentang sebuah visi kehidupan atau image masa depan disampaikan, digambarkan, dan diterangkan melalui cerita, melalui kata-kata. Jadilah cerita inspiratif yang menumbuhkan semangat dan harapan akan kehidupan masa depan yang diimpikan.

Pidato Sukarno yang berkobar-kobar membakar ketertundukan jiwa rakyat Indonesia. Pidato Martin Luther King tentang impiannya membuka kesadaran pendengarnya tentang adanya kemungkinan kehidupan yang jauh lebih baik. Kata-kata Gandhi melahirkan kesabaran yang luar biasa pada pengikutnya untuk menerima pukulan fisik pasukan Inggris tanpa sama sekali membalas.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kata-kata dan kisah inspiratif orang besar tersebut merupakan mantra yang mempunyai daya magis? Banyak penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa kata-kata memang mempunyai kekuatan yang luar biasa, sekalipun itu kata-kata orang biasa. Kata bukanlah sekedar penjelasan terhadap suatu realitas, tetapi pembentuk realitas itu sendiri. Makna dibentuk dalam percakapan. Realitas diciptakan dalam komunikasi.

Guru yang meyakini dan mengatakan murid-muridnya sebagai orang yang bodoh dan malas maka akan benar-benar mendapatkan nilai hasil belajar muridnya yang buruk. Orang tua yang terus menerus menyatakan anaknya sebagai anak nakal maka begitu pula jadinya kemudian. Pasang surut sebuah kebudayaan dibentuk oleh percakapan diantara anggota budaya tersebut. Percakapan yang positif dan antusias akan menciptakan budaya yang penuh dengan vitalitas. Percakapan yang pesimis dan sinis akan membentuk suatu budaya yang dekaden dan menuju ambang kematiannya. Coba ingat, kapan terakhir kali bangsa Indonesia dipenuhi oleh percakapan yang positif dan antusias?

Kata dan kisah yang inspiratif telah lama menghilang dari percakapan bangsa ini. Kita lebih suka menunggu datangnya sebuah jawaban, menanti sebuah kisah besar. Jawaban yang memuaskan keingintahuan kita. Kisah besar yang “menghibur” kita. Alih-alih berbicara tentang perubahan, kita lebih memilih pasif mengikuti orang-orang besar yang dilahirkan untuk melakukan perubahan. Sayangnya, orang besar biasanya adalah mahluk langka, sangat jarang ada. Pilihan bagi kita adalah terus menunggu atau melakukan pencarian kisah-kisah inspiratif dari orang-orang biasa.

Tunggu dulu. Apakah mungkin orang biasa mempunyai kisah inspiratif? Setiap manusia pada dasarnya merupakan sumber inspirasi dan pembelajaran yang tidak pernah ada habisnya. Setiap dari kita mempunyai kisah-kisah menarik yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Kita lebih kuat menyimpan kisah-kisah tersebut dalam ingatan, melebihi hal yang lainnya.

Lihatlah bagaimana buku Chichen Soup beserta serialnya laris manis dibeli masyarakat. Atau yang terbaru, buku Chocolate diserbu pembaca. Padahal isi kedua buku tersebut bukanlah resep sukses dari pakar, bukanlah kisah seorang tokoh besar. Kedua buku itu memuat cerita ribuan kisah inspiratif dari orang-orang biasa.

Kisah inspiratif orang biasa dalam kedua buku tersebut tetaplah mempunyai daya magis yang dapat menyentuh sisi emosi dan menggugah kesadaran manusia. Tidak sedikit pembaca yang trenyuh bahkan menangis membaca kisah-kisah itu dan selanjutnya menimbulkan semangat yang luar biasa. Mereka yang tertekan akan terbebaskan dari beban kehidupan. Mereka yang putus asa menemukan kembali cahaya harapan. Mereka kembali bersemangat menjalani hidup, giat kembali dalam bekerja.

Tetapi buku semacam itu sesungguhnya masih menempatkan kita, para pembaca, sebagai pihak yang pasif, menunggu adanya kisah inspiratif orang biasa yang disajikan untuk mereka. Padahal apabila kisah orang biasa bisa begitu inspiratif, maka sebenarnya banyak kisah-kisah inspiratif di sekitar kita, kisah inspiratif dari orang-orang disekeliling kita.

***

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara kita mendapatkan kisah inspiratif dari orang-orang disekeliling kita? Bagaimana cara menjadikan kisah inspiratif sebagai sumber energi perubahan dunia?

Pertama, kita harus apresiatif terhadap kehidupan manusia. Apresiatif berarti menghargai, memberi nilai tambah, mengambil pelajaran. Praktek apresiatif akan membuat kita menjadi mahluk yang menghargai segala sesuatunya, termasuk menghargai hal-hal kecil disekeliling kita.

Prinsip apresiatif ini sudah sangat langka di dunia kita yang didominasi oleh wacana defisit. Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih sering memandang sisi negatif, sisi lemah dan kekurangan dari orang lain. Coba saja, apa yang kita perbincangkan mengenai pemimpin kita? Apa yang kita perbincangkan mengenai rekan kerja kita? Apa yang kita perbincangkan tentang Indonesia? Apa yang dibicarakan dalam rapat? Apa yang kita bicarakan dengan suami/isteri kita? Sisi positif atau sisi negatif? Kekuatan atau kelemahan? Kebaikan atau keburukan? Impian masa depan atau persoalan? Sangat wajar apabila kita menjawab sisi negatif, kelemahan, keburukan atau persoalan. Luar biasa dan sangat langka apabila kita menjawab sisi positif, kekuatan, kebaikan dan impian masa depan.

Wacana defisit ini pun sudah merasuk dalam dunia keilmuan kita. Dalam manajemen, semua orang pasti paham benar dengan konsep problem solving. Identifikasi masalah. Identifikasi penyebab. Analisis solusi. Tentukan solusi dan implementasikan. Pembahasan yang diawali dengan identifikasi masalah pasti akan mendapatkan masalah dan selalu masalah. Program dan langkah yang diambil seringkali terjebak pada perbaikan demi perbaikan, dari persoalan yang satu ke persoalan yang lain. Bahkan, seorang direktur pernah mengatakan, “kalau pegawai melakukan sesuatu yang positif kan sudah seharusnya tidak perlu diperhatikan. Pegawai yang melakukan sesuatu yang negatiflah yang harus disorot”.

Ilmu psikologi selama puluhan tahun pun tenggelam dalam penyelidikan- penyelidikan terhadap kasus penyimpangan negatif. Pada tahun 1998, Dr. Martin Seligman, presiden American Psychological Association, meninjau kembali seluruh penelitian yang dilakukan organisasinya. Hasil sangat luar biasa. Dari tahun 1970 sampai 2000, ada 45.000 penelitian tentang depresi, psikosis, dan berbagai bentuk penyakit mental lainnya. Selama jenjang waktu yang sama hanya ada 300 penelitian yang dilakukan mengenai topik yang berkaitan dengan kesenangan, kesehatan mental, dan kesejahteraan manusia.

Seligman sendiri tidak menduga akan menemukan hasil yang demikian. Penelitian psikologi begitu terfokus pada penyakit dan patologi. Dia menyimpulkan bahwa bidang psikologi telah menyimpang jauh dari tujuan awalnya-untuk mendefinisikan apa yang terbaik bagi manusia-untuk menyembuhkan penyakit, dan untuk membantu orang-orang hidup lebih baik, hidup lebih bahagia. Apa dampaknya bagi psikologi? Para psikolog terlalu terfokus pada pendefinisian “penyakit-penyakit baru” yang diidap manusia. Para psikolog kemudian miskin pengetahuan mengenai cara menuju bahagia, karena lebih tekun mencari cara menyembuhkan penyakit.

Dalam kedokteran dan ilmu pengobatan, wacana defisit diusung oleh dunia barat yang berseberangan dengan wacana positif yang diyakini oleh dunia timur. Perbedaan wacana ini tercermin dari istilah yang digunakan yaitu “medicine” versus “healing”. Medicine yang berati mengobati atau menyembuhkan tentu sangat berlawanan dengan pengertian menyehatkan dari healing. Dengan pengobatan, fokus utama kita adalah terhadap penyakit dan dengan sendirinya mengurangi perhatian terhadap manusia secara menyeluruh. Sementara, wacana penyehatan, yang seringkali dimarginalisasi dengan sebutan pengobatan alternatif, justru lebih terfokus pada manusia dan upaya-upaya untuk menyehatkan manusia agar tahan menghadapi penyakit.

Dalam dunia pertanian, peptisida dan pupuk organik yang disarankan oleh para pakar bukannya semakin meningkatkan kualitas tanah dan pertanian tetapi justru membuat tanah dan pertanian semakin rusak, tergantung dari formula yang satu ke formula yang lain. Alih-alih menciptakan pertanian yang sehat, upaya menyelesaikan suatu penyakit melalui penggunaan zat kimia justru melahirkan penyakit-penyakit baru karena adanya resistensi dan kreativitas mahluk hidup yang disebut sebagai penyakit oleh manusia. Tak heran kemudian saat ini banyak petani yang kembali melakukan dan mengembangkan pertanian organik.

Apa dampak penggunaan paradigma defisit dalam kehidupan kita? Berdasarkan hasil rangkuman beberapa tulisan dan refleksi pengalaman pribadi, ada beberapa kesimpulan tentang dampak dari wacana defisit ini, yaitu:

• Menimbulkan rasa sakit karena orang dipaksa untuk mengingat kembali kesalahan di masa lalu

• Melahirkan sikap defensif seperti saling tuding, lempar tanggung jawab dan mencari kambing hitam

• Membuat orang tidak percaya diri untuk melakukan tindakan positif, karena apapun tindakannya akan dilihat sisi kelemahan dan kekurangannya

• Jarang melahirkan visi baru karena hanya terfokus pada kenyataan, jarang merefleksikan tujuannya

• Seringkali upaya menyelesaikan persoalan tidak pernah benar-benar menyelesaikan, hanya memindahkan persoalan atau justru menimbulkan persoalan baru

Dampak wacana defisit yang demikian luas, menuntut kita untuk melakukan loncatan kesadaran menuju wacana apresiatif. Sebagaimana yang dikatakan oleh Albert Einstein, “Tidak ada persoalan yang dapat diselesaikan oleh suatu kesadaran yang menciptakan persoalan tersebut. Kita harus belajar memandang dunia dan manusia dengan cara pandang baru”.

Loncatan kesadaran menunjukkan bahwa antara wacana defisit dan wacana apresiatif bukanlah relasi yang dikotomis, bersifat hitam-putih (Terima kasih kepada rekan Leonardo Rimba atas masukannya yang inspiratif). Kedua wacana tersebut merupakan alternatif-alternat if kesadaran manusia. Ibaratnya, berganti kacamata hijau menjadi kacama merah. Ada bagian dari kehidupan kita yang jauh lebih menarik apabila kita menggunakan wacana defisit dalam bertindak, seperti mungkin dalam situasi yang terbatas oleh waktu, atau tindakan-tindakan yang bertujuan teknis-instrumental .

Semisal, kita harus mengapresiasi kehadiran ular dalam komunitas sawah secara luas karena perannya penting dalam menjaga keseimbangan alam. Ketika kita memusnahkan ular maka terjadilah bencana alam karena terganggunya keseimbangan alam. Tikus merajalela dimana-mana. Dalam konteks makro tersebut, maka saya memilih menggunakan wacana apresiatif dalam memandang ular.

Akan tetapi ketika kita berjalan di tengah sawah dan berjumpa dengan ular yang menyerang diri kita, maka mungkin wajar apabila kita menggunakan wacana defisit. Kita memandang ular tersebut sebagai masalah sehingga kita akan menyelesaikan masalah tersebut, entah dengan lari atau memukul ular tersebut. Walau untuk beberapa orang dengan kapasitas tertentu, pilihan untuk meggunakan wacana apresiatif tetap terbuka. Karena sesungguhnya, pilihan tetap berada di tangan kita.

Ketika membicarakan tentang wacana apresiatif, pertanyaan yang seringkali diajukan adalah apa yang kita lakukan terhadap yang negatif atau persoalannya? Bedakan berpikir apresiatif dengan berpikir positif, berpikir afirmatif atau berpikir anti-kritik. Berpikir apresiatif bukan berarti menafikkan apa yang negatif. Bukan membutakan diri terhadap kelemahan. Bukan tidak mengakui kekurangan. Setiap orang pasti pernah salah. Setiap keluarga pasti punya aib. Setiap organisasi pasti pernah mengalami kegagalan.

Berpikir apresiatif adalah upaya menghargai apa yang ada pada diri kita, mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita lalui. Kita diajak untuk lebih terfokus pada apa yang terbaik dari manusia dan sistem manusia, apa yang memberi nafas kehidupan. Semisal, seburuk apapun Indonesia tetap kita harus mengakui bahwa Indonesia telah bertahan puluhan tahun. Pasti ada sesuatu yang membuat Indonesia tetap bertahan, sesuatu yang meng”hidup”kan Indonesia. Sesuatu itulah yang akan dihargai dengan berpikir apresiatif dan yang akan menjadi pijakan dalam melakukan perubahan yang mendasar.

Kedua, kita harus terus menerus melakukan penyelidikan (inquiry) terhadap kehidupan manusia. “Jangan banyak bertanya”, “Jangan beri kami pertanyaan, beri kami jawaban”, adalah ucapan yang sering kita dengar mulai dari para siswa maupun pekerja ketika mereka difasilitasi untuk melakukan pembelajaran. Keyakinan adanya sebuah kebenaran tunggal membuat kita seringkali berpikir untuk apa repot-repot mengajukan pertanyaan, sampaikan saja kebenaran itu.

Itu juga sangat jelas tercermin dalam sistem pendidikan kita yang lebih terfokus pada mengetahui “jawaban yang benar”. Siswa yang sukses adalah siswa yang bisa mengakses jawaban yang benar tersebut secara cepat dan tepat. Penekanan yang berlebih pada jawaban membuat perhatian kita berkurang terhadap pertanyaan. Sehingga, sistem pendidikan kita menekankan pengetahuan yang dihafalkan dan statis sifatnya daripada upaya pencarian kemungkinan- kemungkinan baru melalui pertanyaan yang dinamis.

Menjadi ironi apabila dalam masa sekolah kita memberikan jawaban yang benar kepada pasa siswa, padahal jawaban tersebut mungkin sudah tidak relevan lagi pada 5 – 10 tahun ke depan, ketika siswa tersebut menghadapi dunia nyata. Jawaban yang tepat atas tantangan masa kini mungkin sudah menjadi sesuatu yang basi untuk menjawab tantangan masa depan. Ibaratnya, kita memberikan jawaban yang benar atas pertanyaan yang salah. Penting memang mencari jawaban yang tepat, tetapi bagaimanapun itu semua diawali dengan pencarian pertanyaan yang tepat.

Prinsip inquiry memandang manusia sebagai mahluk yang selalu bertanya. Mengubah manusia dewasa yang menerima begitu saja segalanya menjadi anak yang penuh dengan pertanyaan. Manusia dewasa yang menganggap tahu segalanya menjadi anak yang terus menerus belajar. Tepat, pertanyaan merupakan ciri terjadinya pembelajaran. Ingat teori gravitasi lahir dari sebuah pertanyaan sederhana tentang fenomena apel jatuh, sebuah fenomena yang sudah tidak pernah dipertanyakan lagi oleh orang-orang pada jamannya. Sebuah pertanyaan sederhana dapat melahirkan sebuah teori dan menghasilkan perubahan dunia. Semakin beragam pertanyaannya maka semakin banyak yang dipelajari seseorang.

***

Kedua prinsip tersebut, appreciative dan inquiry kemudian membentuk pendekatan yang disebut sebagai Appreciative Inquiry. Sebagaimana fusi antara hidrogen dan oksigen, seperti reaksi fusi inti nuklir, penggabungan antara appreciative dan inquiry melahirkan sebuah energi dahsyat yang mengkatalisasikan perubahan yang luar biasa. Proses fusi tersebut akan menyatukan energi dari setiap orang, mengikat energi itu dan mengubah menjadi daya dorong yang tidak terbayangkan. Forum yang awalnya dingin berubah menjadi hangat, seolah-olah energi alam melinggkupi forum tersebut, ketika orang-orang melakukan wawancara apresiatif dan bertukar cerita inspiratif.

Secara sederhana, Appreciative Inquiry dapat diartikan sebagai seni dan praktek bertanya yang memperkuat kapasitas manusia dan sistem manusia untuk menciptakan masa depan yang penuh dengan harapan. Secara lebih serius, Appreciative Inquiry adalah sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan. Appreciative Inquiry dapat diterapkan di berbagai bidang selama fokusnya adalah manusia dan sistem manusia. Sistem manusia dapat berarti manusia sebagai suatu mahluk yang utuh, dapat juga berarti keluarga, komunitas, kelompok, organisasi dan bahkan kota.

Appreciative Inquiry dikembangkan pertama kali oleh David Cooperrider dan Suresh Srivastva di Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio. Mereka berdua melakukan uji coba berbagai pendekatan action research untuk mengembangkan Cleveland Clinic, sebuah fasilitas perawatan kesehatan bertaraf-internasio nal. Mereka berdua melakukan wawancara yang terfokus pada faktor-faktor yang memberikan kontribusi bagi efektivitas organisasi. Proses wawancara ini kemudian memancing seluruh anggota organisasi membicarakan kisah-kisah keberhasilan organisasi secara antusias. Keberhasilan pendekatan awal ini yang kemudian menyebarluas ke seluruh penjuru dunia.

Dalam sepuluh tahun terakhir, Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia, seperti untuk mengubah budaya sebuah organisasi, melakukan transformasi komunitas, menciptakan pembaharuan organisasi, mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik. Dalam bidang sosial, Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas pinggiran, perubahan kota, membangun pemimpin religius, dan menciptakan perdamaian (Chapagai, 2000; der Haar dan Hosking, 2004; Bushe, 2005; Watkins, J., Mohr, B., 2001; Whitney, D., & Trosten-Bloom, A., 2002).

Dalam dunia pendidikan, Appreciative Inquiry digunakan untuk perubahan budaya, penyusunan rencana strategis dan perubahan proses pembelajaran. Dalam pengelolaan SDM, Appreciative Inquiry diterapkan untuk melakukan wawancara seleksi, membentuk model kompetensi, penilaian kinerja, coaching dan mentoring, serta membentuk tim kerja. Selain itu, Appreciative Inquiry diterapkan juga untuk penciptaan keluarga, desain pendidikan anak, terapi individu dan terapi kelompok (Bushe, 1998; Bushe dan Kassam, 2005; Watkins, J., Mohr, B., 2001; Whitney, D., & Trosten-Bloom, A., 2002).

***

Mari kita kembali pada pencarian kisah inspiratif, kembali pada perubahan dunia. Bagaimana cara appreciative inquiry menggali kisah inspiratif? Bagaimana cara appreciative inquiry menjadikan kisah inspiratif sebagai energi pengubah dunia? Cara appreciative inquiry ibarat penambang mencari dan mengubah biji emas untuh menciptakan dunia yang indah. Siklus cara appreciative inquiry biasa disebut sebagai siklus 5-D yaitu Definition, Discovery, Dream, Design dan Destiny.

Layaknya seorang penambang, langkah awalnya adalah menentukan apa yang menjadi fokus penambangan, apa yang mau ditambang? Langkah awal ini akan menentukan keseluruhan proses. Bila penambang itu menentukan emas maka emas yang akan didapatkan. Akan berbeda ketika ia memilih perak, perunggu, atau tanah.

Penambang selanjutnya akan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan proses penambangan. Penambang melakukan penambangan dan kemudian mendapatkan bijih-bijih emas dengan ukuran, bentuk dan kualitas yang variatif. Lalu bagaimana? Penambang akan berimajinasi tentang bentuk yang diinginkannya. Dengan segala bijih emas yang dimiliki, kondisi ideal macam apa yang dapat tercapai? Penambang akan berimajinasi, semisal tentang bentuk perhiasanan atau artefak lainnya dengan segala keindahan.

Penambang melanjutkan langkahnya. Ia menyusun desain untuk mengolah bijih emas menjadi bentuk yang diimpikan, mulai dari desain proses pembentukan, organisasi produksi, sistem jaminan mutunya dan yang lainnya. Apabila segalanya telah tersedia dan dipersiapkan, maka penambang mulai beraksi untuk mewujudkan impian dalam kehidupan nyata. Ia akan merayakan setiap keberhasilan dan mengembangkan keberhasilan itu.

Sebagaimana cerita penambang diatas, begitu pula langkah dasar dalam Appreciative Inquiry. Diawali dengan pemilihan pemilihan topik afirmatif, fokus perubahan yang diinginkan. Sebagaimana namanya, topik ini harus memancing minat semua untuk mencari tahu, mempelajari dan mengembangkan topik tersebut. Topik yang membangkitkan gairah, menyulut semangat kehidupan. Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud. Beberapa topik afirmatif adalah kepuasan kerja yang mengikat, penciptaan kehidupan yang harmonis, pembelajaran yang inspiratif.

Ambil contoh kita memilih topik afirmatif pasangan yang luar biasa. Langkah berikutnya, kita akan memasuki tahap Discovery yaitu melakukan wawancara apresiatif seputar topik afirmatif, –aktivitas appresiatif inquiry yang tak tergantikan. Tujuan utama wawancara ini adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang, pekerjaan dan organisasinya. Kreativitas praktisi appresiatif inquiry sangat diperlukan untuk menciptakan pertanyaan yang tajam, provokatif dan memancing lahirnya kisah inspiratif.

Semisal, “Ingatlah ketika aku dan kamu pertama kali jatuh cinta satu sama lain. Ceritakan pengalaman ketika engkau jatuh cinta pertama kali padaku! Apa yang membuatmu jatuh cinta?” Atau, “Setelah melewati beberapa waktu, perkawinan kita telah mengalami momen terbaik. Ceritakan mengenai momen-momen terbaik yang ingin kamu bekukan dan kamu ingin kembali mengalami momen tersebut. Apa yang kita lakukan? Apa yang membuat momen itu menjadi sempurna?”

Percaya atau tidak, pertanyaan-pertanya an tersebut dapat mengungkapkan kemisteriusan kehidupan manusia. Kita akan mendapatkan banyak jawaban-jawaban, biasanya dalam bentuk cerita, yang tidak terduga, yang luar biasa, yang “aneh”, yang “ajaib “, sisi lain yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Kita terkadang terharu, terkadang geli, terkadang tergugah ketika mendengarkan berbagai cerita tersebut. Cerita tersebut mengandung jiwa kehidupan bagi individu maupun organisasi, mengandung sesuatu yang membuat individu atau organisasi menjadi “hidup”. Jawaban atau cerita inspiratif ini kemudian kita kristalisasikan menjadi inti positif, aspek dalam sejarah kita yang paling berharga dan ingin dikembangkan di masa depan.

Setelah mendapatkan “emas” berupa cerita inspiratif, kita ditantang untuk berimajinasi tentang masa depan yang ideal. Proses tahap Dream ini biasanya dipandu dengan pertanyaan impian, sebagai pemancing untuk berimajinasi bebas. Semisal, “Pejamkan mata anda! Bayangkan kamu mengalami tidur panjang dan baru terbangun 10 tahun kemudian. Selama engkau tidur, dunia dan keluarga ini telah mengalami perubahan yang sangat positif, seluruh impian dan harapan anda terwujud. Ketika anda terbangun, apa yang engkau saksikan? Ceritakan secara rinci! Bagaimana pasanganmu, bagaimana anak kita, bagaimana keluarga kita?”

Pertanyaan impian ini harus memperluas kesadaran secara ruang dan waktu, mendorong orang berimajinasi tentang kehidupan bersama yang diimpikan pada masa yang akan datang. Pertanyaan impian ini biasanya menggugah, terkadang pula mengguncang, kesadaran kita semua. Dalam beberapa kejadian, pertanyaan impian ini tidak langsung terjawab. Walau demikian, pertanyaan impian ini seakan-akan menghentikan waktu kehidupan kita, dan mendorong kita untuk berpikir tentang arah kehidupan di masa mendatang.

Discovery dan Dream adalah dua tahap yang paling emosional dalam Appreciative Inquiry. Seluruh energi emosional dari peserta yang terlibat akan berkumpul dan mengubah pertemuan atau aktivitas yang berlangsung menjadi penuh dengan gairah kehidupan. Gabungan energi ini yang akan menjadi daya dorong bagi tahap-tahap selanjutnya. Dalam salah satu kesempatan, saya menawarkan kepada salah seorang sahabat serangkaian pertanyaan appreciative inquiry tentang pasangan yang luar biasa. Dan komentarnya sungguh luar biasa,

“……..pada saat yang sama aku juga bilangin kalo aku senang sekali waktu lihat dia main piano lagu Love Story sambil sesekali nengok ke aku…kayaknya gimana gitu…kamu tahu Bud….efeknya sampe sekarang untuk satu pertanyaan itu….kita jadi bermemori…ngingat masa lalu..dan sikap dia ke aku..wuih..( meski ga pake kata-kata sayang, wong dia gak bisa untuk hal itu) tapi body languangenya itu. Seperti saat tidur, care banget sama aku….suka usap-usap punggung…(hi..hi..) kalo kebangun tengah malam, nyempet-nyempetin cium kening aku sebelum dia lanjutin tidur lagi….weleh….

Aduh mengingat ini aku gigiku jadi ngilu…hi..hi…hi……”

(Email pada Kamis, 13 April 2006)

Reaksi berbeda terjadi pada orang yang berbeda. Seorang mahasiswa menuturkan bagaimana ia dicurigai pacarnya ketika mengajukan pertanyaan apresiatif. “apa maksudnya?”. “Nanti kamu GR kalau kujawab”. Akan tetapi pada akhirnya,

“….saya mencoba menerapkan berbicara AI dengan pasangan, hasilnya WOW !!!! luar biasa, saya jadi enak berbicara dengan pasangan saya, dan pasangan saya pun jadi enak mendengarnya, bahkan sampai keluar air mata terharu yang LUAR BIASA!!!”

(Email pada Kamis, 13 Juli 2006)

Selanjutnya, berdasarkan apa yang terbaik di masa lalu dan masa kini, serta impian kehidupan masa depan, maka kita kemudian mulai mendesain arsitektur kehidupan bersama kita. Kita menyusun prinsip-prinsip tentang bentuk organisasi, nilai, proses, hubungan antar pihak dan yang lainnya. Hasil dari tahap ini adalah sejumlah prinsip panduan, yang biasa disebut sebagai proposisi provokatif, untuk menentukan aksi atau tindakan yang akan kita lakukan.

Pada tahap terakhir dari siklus 5D, setiap anggota dibebaskan dan diberdayakan untuk mengajukan ide inovatif yang sesuai dengan hasil tahap sebelumnya. Ide inovatif yang disepakati didukung secara menyeluruh baik oleh anggota yang lain maupun oleh organisasi. Setiap anggota yang berminat mulai melakukan aksi dalam kehidupan nyata. Pada akhirnya, setiap keberhasilan dirayakan, disebarluaskan, dan dikembangkan pada keseluruhan organisasi.

Langkah siklus 5D Appreciative Inquiry sebenarnya sederhana. Selama kita bisa melepaskan diri dari wacana defisit dan mengubah cara pandang menjadi apresiatif. Kita bisa melakukan pembandingan antara langkah Appreciative Inquiry dengan langkah problem solving untuk semakin memudahkan pemahaman, sebagaimana bagan berikut:

Praktek appreciative inquiry adalah praktek yang mudah. Praktek itu dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun. Tidak perlu waktu dan ruang khusus. Bagi mereka yang pemula, bisa mencobanya di meja makan ketika makan malam bersama keluarga, dan mengubah makan malam itu menjadi pertemuan keluarga yang menggugah. Bisa dilakukan ketika kencan bersama pasangan, dan jadilah kencan paling romantis. Atau mulailah rapat dengan mengajukan pertanyaan, apa pengalaman terbaik dan keberhasilan kita minggu ini? Rapat akan berubah menjadi pertemuan yang menarik.

Praktek appreciative inquiry adalah praktek yang mudah. Setiap orang bisa mencari kisah-kisah inspiratif. Setiap orang bisa membangkitkan semangat kehidupan lingkungan sekitarnya. Setiap orang bisa mengajak orang-orang disekelilingnya menciptakan visi kehidupan mendatang. Setiap orang bisa mengubah dunia sesuai daya yang dimiliki dan terarah pada impian masa depan yang diinginkan. Tepat kiranya bila appreciative inquiry disebut sebagai jalan setiap orang untuk mengubah dunia, dan terus mengubah dunia. Pertanyaan apresiatif yang kita ajukan akan memframing orang lain, jawaban orang tersebut akan menginspirasi kita dan berputar berkembang begitu terus. Semua orang terhubung melalui perbincangan yang inspiratif untuk mengumpulkan energi positif dan mewujudkan semua impian.

“Ketika aku bermimpi sendiri, itu hanyalah sebuah mimpi.

Ketika kita bermimpi bersama, itu adalah awal sebuah kenyataan.

Ketika kita bekerja bersama, mengikuti mimpi kita, itu adalah penciptaan surga di dunia”

Peribahasa Brasil

Sunday, July 4, 2010

Appreciative Inquiry: Jalan setiap orang untuk mengubah dunia

Catatan: Ini adalah kata pengantar buku the power of appreciative inquiry yang diterbitkan oleh B-first (Mizan Grup) pada awal 2007. Selamat menikmati!

If you can dream it, you can do it. –Walt Disney

Mengapa Gandhi dapat menggerakkan rakyat India? Mengapa Sukarno dapat menggerakkan rakyat Indonesia? Mengapa Martin Luther King didengarkan dan diikuti oleh jutaan orang?

Ada banyak penjelasan atas pertanyaan-pertanya an tersebut seperti mereka adalah manusia pilihan tuhan atau kharisma mereka yang besar. Tetapi, ada persamaan yang jelas diantara mereka, yakni hadir dengan membawa inspirasi kepada masyarakatnya. Dengan kekuatan kata-kata, mereka menyentuh hati, menggugah kesadaran, dan memberi pencerahan kepada orang-orang disekitarnya. Dengan kekuatan kata-kata, mereka mewujudkan apa yang tidak mungkin menjadi suatu kenyataan. Bahkan, jauh setelah meninggal, kisah mereka tetap menjadi inspirasi bagi ribuan bahkan jutaan orang, mencerahkan mereka yang tenggelam dan tak berdaya dalam kekelaman kehidupan.

Inspirasi mereka telah menjadi kekuatan pengubah dunia. Bukan karena rasionalitas dibalik inspirasi tersebut, tetapi inspirasi itu menyentuh hati, emosi, dan jiwa orang-orang yang mendengarkannya. Inspirasi tentang sebuah visi kehidupan atau image masa depan disampaikan, digambarkan, dan diterangkan melalui cerita, melalui kata-kata. Jadilah cerita inspiratif yang menumbuhkan semangat dan harapan akan kehidupan masa depan yang diimpikan.

Pidato Sukarno yang berkobar-kobar membakar ketertundukan jiwa rakyat Indonesia. Pidato Martin Luther King tentang impiannya membuka kesadaran pendengarnya tentang adanya kemungkinan kehidupan yang jauh lebih baik. Kata-kata Gandhi melahirkan kesabaran yang luar biasa pada pengikutnya untuk menerima pukulan fisik pasukan Inggris tanpa sama sekali membalas.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kata-kata dan kisah inspiratif orang besar tersebut merupakan mantra yang mempunyai daya magis? Banyak penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa kata-kata memang mempunyai kekuatan yang luar biasa, sekalipun itu kata-kata orang biasa. Kata bukanlah sekedar penjelasan terhadap suatu realitas, tetapi pembentuk realitas itu sendiri. Makna dibentuk dalam percakapan. Realitas diciptakan dalam komunikasi.

Guru yang meyakini dan mengatakan murid-muridnya sebagai orang yang bodoh dan malas maka akan benar-benar mendapatkan nilai hasil belajar muridnya yang buruk. Orang tua yang terus menerus menyatakan anaknya sebagai anak nakal maka begitu pula jadinya kemudian. Pasang surut sebuah kebudayaan dibentuk oleh percakapan diantara anggota budaya tersebut. Percakapan yang positif dan antusias akan menciptakan budaya yang penuh dengan vitalitas. Percakapan yang pesimis dan sinis akan membentuk suatu budaya yang dekaden dan menuju ambang kematiannya. Coba ingat, kapan terakhir kali bangsa Indonesia dipenuhi oleh percakapan yang positif dan antusias?

Kata dan kisah yang inspiratif telah lama menghilang dari percakapan bangsa ini. Kita lebih suka menunggu datangnya sebuah jawaban, menanti sebuah kisah besar. Jawaban yang memuaskan keingintahuan kita. Kisah besar yang “menghibur” kita. Alih-alih berbicara tentang perubahan, kita lebih memilih pasif mengikuti orang-orang besar yang dilahirkan untuk melakukan perubahan. Sayangnya, orang besar biasanya adalah mahluk langka, sangat jarang ada. Pilihan bagi kita adalah terus menunggu atau melakukan pencarian kisah-kisah inspiratif dari orang-orang biasa.

Tunggu dulu. Apakah mungkin orang biasa mempunyai kisah inspiratif? Setiap manusia pada dasarnya merupakan sumber inspirasi dan pembelajaran yang tidak pernah ada habisnya. Setiap dari kita mempunyai kisah-kisah menarik yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Kita lebih kuat menyimpan kisah-kisah tersebut dalam ingatan, melebihi hal yang lainnya.

Lihatlah bagaimana buku Chichen Soup beserta serialnya laris manis dibeli masyarakat. Atau yang terbaru, buku Chocolate diserbu pembaca. Padahal isi kedua buku tersebut bukanlah resep sukses dari pakar, bukanlah kisah seorang tokoh besar. Kedua buku itu memuat cerita ribuan kisah inspiratif dari orang-orang biasa.

Kisah inspiratif orang biasa dalam kedua buku tersebut tetaplah mempunyai daya magis yang dapat menyentuh sisi emosi dan menggugah kesadaran manusia. Tidak sedikit pembaca yang trenyuh bahkan menangis membaca kisah-kisah itu dan selanjutnya menimbulkan semangat yang luar biasa. Mereka yang tertekan akan terbebaskan dari beban kehidupan. Mereka yang putus asa menemukan kembali cahaya harapan. Mereka kembali bersemangat menjalani hidup, giat kembali dalam bekerja.

Tetapi buku semacam itu sesungguhnya masih menempatkan kita, para pembaca, sebagai pihak yang pasif, menunggu adanya kisah inspiratif orang biasa yang disajikan untuk mereka. Padahal apabila kisah orang biasa bisa begitu inspiratif, maka sebenarnya banyak kisah-kisah inspiratif di sekitar kita, kisah inspiratif dari orang-orang disekeliling kita.

***

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara kita mendapatkan kisah inspiratif dari orang-orang disekeliling kita? Bagaimana cara menjadikan kisah inspiratif sebagai sumber energi perubahan dunia?

Pertama, kita harus apresiatif terhadap kehidupan manusia. Apresiatif berarti menghargai, memberi nilai tambah, mengambil pelajaran. Praktek apresiatif akan membuat kita menjadi mahluk yang menghargai segala sesuatunya, termasuk menghargai hal-hal kecil disekeliling kita.

Prinsip apresiatif ini sudah sangat langka di dunia kita yang didominasi oleh wacana defisit. Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih sering memandang sisi negatif, sisi lemah dan kekurangan dari orang lain. Coba saja, apa yang kita perbincangkan mengenai pemimpin kita? Apa yang kita perbincangkan mengenai rekan kerja kita? Apa yang kita perbincangkan tentang Indonesia? Apa yang dibicarakan dalam rapat? Apa yang kita bicarakan dengan suami/isteri kita? Sisi positif atau sisi negatif? Kekuatan atau kelemahan? Kebaikan atau keburukan? Impian masa depan atau persoalan? Sangat wajar apabila kita menjawab sisi negatif, kelemahan, keburukan atau persoalan. Luar biasa dan sangat langka apabila kita menjawab sisi positif, kekuatan, kebaikan dan impian masa depan.

Wacana defisit ini pun sudah merasuk dalam dunia keilmuan kita. Dalam manajemen, semua orang pasti paham benar dengan konsep problem solving. Identifikasi masalah. Identifikasi penyebab. Analisis solusi. Tentukan solusi dan implementasikan. Pembahasan yang diawali dengan identifikasi masalah pasti akan mendapatkan masalah dan selalu masalah. Program dan langkah yang diambil seringkali terjebak pada perbaikan demi perbaikan, dari persoalan yang satu ke persoalan yang lain. Bahkan, seorang direktur pernah mengatakan, “kalau pegawai melakukan sesuatu yang positif kan sudah seharusnya tidak perlu diperhatikan. Pegawai yang melakukan sesuatu yang negatiflah yang harus disorot”.

Ilmu psikologi selama puluhan tahun pun tenggelam dalam penyelidikan- penyelidikan terhadap kasus penyimpangan negatif. Pada tahun 1998, Dr. Martin Seligman, presiden American Psychological Association, meninjau kembali seluruh penelitian yang dilakukan organisasinya. Hasil sangat luar biasa. Dari tahun 1970 sampai 2000, ada 45.000 penelitian tentang depresi, psikosis, dan berbagai bentuk penyakit mental lainnya. Selama jenjang waktu yang sama hanya ada 300 penelitian yang dilakukan mengenai topik yang berkaitan dengan kesenangan, kesehatan mental, dan kesejahteraan manusia.

Seligman sendiri tidak menduga akan menemukan hasil yang demikian. Penelitian psikologi begitu terfokus pada penyakit dan patologi. Dia menyimpulkan bahwa bidang psikologi telah menyimpang jauh dari tujuan awalnya-untuk mendefinisikan apa yang terbaik bagi manusia-untuk menyembuhkan penyakit, dan untuk membantu orang-orang hidup lebih baik, hidup lebih bahagia. Apa dampaknya bagi psikologi? Para psikolog terlalu terfokus pada pendefinisian “penyakit-penyakit baru” yang diidap manusia. Para psikolog kemudian miskin pengetahuan mengenai cara menuju bahagia, karena lebih tekun mencari cara menyembuhkan penyakit.

Dalam kedokteran dan ilmu pengobatan, wacana defisit diusung oleh dunia barat yang berseberangan dengan wacana positif yang diyakini oleh dunia timur. Perbedaan wacana ini tercermin dari istilah yang digunakan yaitu “medicine” versus “healing”. Medicine yang berati mengobati atau menyembuhkan tentu sangat berlawanan dengan pengertian menyehatkan dari healing. Dengan pengobatan, fokus utama kita adalah terhadap penyakit dan dengan sendirinya mengurangi perhatian terhadap manusia secara menyeluruh. Sementara, wacana penyehatan, yang seringkali dimarginalisasi dengan sebutan pengobatan alternatif, justru lebih terfokus pada manusia dan upaya-upaya untuk menyehatkan manusia agar tahan menghadapi penyakit.

Dalam dunia pertanian, peptisida dan pupuk organik yang disarankan oleh para pakar bukannya semakin meningkatkan kualitas tanah dan pertanian tetapi justru membuat tanah dan pertanian semakin rusak, tergantung dari formula yang satu ke formula yang lain. Alih-alih menciptakan pertanian yang sehat, upaya menyelesaikan suatu penyakit melalui penggunaan zat kimia justru melahirkan penyakit-penyakit baru karena adanya resistensi dan kreativitas mahluk hidup yang disebut sebagai penyakit oleh manusia. Tak heran kemudian saat ini banyak petani yang kembali melakukan dan mengembangkan pertanian organik.

Apa dampak penggunaan paradigma defisit dalam kehidupan kita? Berdasarkan hasil rangkuman beberapa tulisan dan refleksi pengalaman pribadi, ada beberapa kesimpulan tentang dampak dari wacana defisit ini, yaitu:

• Menimbulkan rasa sakit karena orang dipaksa untuk mengingat kembali kesalahan di masa lalu

• Melahirkan sikap defensif seperti saling tuding, lempar tanggung jawab dan mencari kambing hitam

• Membuat orang tidak percaya diri untuk melakukan tindakan positif, karena apapun tindakannya akan dilihat sisi kelemahan dan kekurangannya

• Jarang melahirkan visi baru karena hanya terfokus pada kenyataan, jarang merefleksikan tujuannya

• Seringkali upaya menyelesaikan persoalan tidak pernah benar-benar menyelesaikan, hanya memindahkan persoalan atau justru menimbulkan persoalan baru

Dampak wacana defisit yang demikian luas, menuntut kita untuk melakukan loncatan kesadaran menuju wacana apresiatif. Sebagaimana yang dikatakan oleh Albert Einstein, “Tidak ada persoalan yang dapat diselesaikan oleh suatu kesadaran yang menciptakan persoalan tersebut. Kita harus belajar memandang dunia dan manusia dengan cara pandang baru”.

Loncatan kesadaran menunjukkan bahwa antara wacana defisit dan wacana apresiatif bukanlah relasi yang dikotomis, bersifat hitam-putih (Terima kasih kepada rekan Leonardo Rimba atas masukannya yang inspiratif). Kedua wacana tersebut merupakan alternatif-alternat if kesadaran manusia. Ibaratnya, berganti kacamata hijau menjadi kacama merah. Ada bagian dari kehidupan kita yang jauh lebih menarik apabila kita menggunakan wacana defisit dalam bertindak, seperti mungkin dalam situasi yang terbatas oleh waktu, atau tindakan-tindakan yang bertujuan teknis-instrumental .

Semisal, kita harus mengapresiasi kehadiran ular dalam komunitas sawah secara luas karena perannya penting dalam menjaga keseimbangan alam. Ketika kita memusnahkan ular maka terjadilah bencana alam karena terganggunya keseimbangan alam. Tikus merajalela dimana-mana. Dalam konteks makro tersebut, maka saya memilih menggunakan wacana apresiatif dalam memandang ular.

Akan tetapi ketika kita berjalan di tengah sawah dan berjumpa dengan ular yang menyerang diri kita, maka mungkin wajar apabila kita menggunakan wacana defisit. Kita memandang ular tersebut sebagai masalah sehingga kita akan menyelesaikan masalah tersebut, entah dengan lari atau memukul ular tersebut. Walau untuk beberapa orang dengan kapasitas tertentu, pilihan untuk meggunakan wacana apresiatif tetap terbuka. Karena sesungguhnya, pilihan tetap berada di tangan kita.

Ketika membicarakan tentang wacana apresiatif, pertanyaan yang seringkali diajukan adalah apa yang kita lakukan terhadap yang negatif atau persoalannya? Bedakan berpikir apresiatif dengan berpikir positif, berpikir afirmatif atau berpikir anti-kritik. Berpikir apresiatif bukan berarti menafikkan apa yang negatif. Bukan membutakan diri terhadap kelemahan. Bukan tidak mengakui kekurangan. Setiap orang pasti pernah salah. Setiap keluarga pasti punya aib. Setiap organisasi pasti pernah mengalami kegagalan.

Berpikir apresiatif adalah upaya menghargai apa yang ada pada diri kita, mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita lalui. Kita diajak untuk lebih terfokus pada apa yang terbaik dari manusia dan sistem manusia, apa yang memberi nafas kehidupan. Semisal, seburuk apapun Indonesia tetap kita harus mengakui bahwa Indonesia telah bertahan puluhan tahun. Pasti ada sesuatu yang membuat Indonesia tetap bertahan, sesuatu yang meng”hidup”kan Indonesia. Sesuatu itulah yang akan dihargai dengan berpikir apresiatif dan yang akan menjadi pijakan dalam melakukan perubahan yang mendasar.

Kedua, kita harus terus menerus melakukan penyelidikan (inquiry) terhadap kehidupan manusia. “Jangan banyak bertanya”, “Jangan beri kami pertanyaan, beri kami jawaban”, adalah ucapan yang sering kita dengar mulai dari para siswa maupun pekerja ketika mereka difasilitasi untuk melakukan pembelajaran. Keyakinan adanya sebuah kebenaran tunggal membuat kita seringkali berpikir untuk apa repot-repot mengajukan pertanyaan, sampaikan saja kebenaran itu.

Itu juga sangat jelas tercermin dalam sistem pendidikan kita yang lebih terfokus pada mengetahui “jawaban yang benar”. Siswa yang sukses adalah siswa yang bisa mengakses jawaban yang benar tersebut secara cepat dan tepat. Penekanan yang berlebih pada jawaban membuat perhatian kita berkurang terhadap pertanyaan. Sehingga, sistem pendidikan kita menekankan pengetahuan yang dihafalkan dan statis sifatnya daripada upaya pencarian kemungkinan- kemungkinan baru melalui pertanyaan yang dinamis.

Menjadi ironi apabila dalam masa sekolah kita memberikan jawaban yang benar kepada pasa siswa, padahal jawaban tersebut mungkin sudah tidak relevan lagi pada 5 – 10 tahun ke depan, ketika siswa tersebut menghadapi dunia nyata. Jawaban yang tepat atas tantangan masa kini mungkin sudah menjadi sesuatu yang basi untuk menjawab tantangan masa depan. Ibaratnya, kita memberikan jawaban yang benar atas pertanyaan yang salah. Penting memang mencari jawaban yang tepat, tetapi bagaimanapun itu semua diawali dengan pencarian pertanyaan yang tepat.

Prinsip inquiry memandang manusia sebagai mahluk yang selalu bertanya. Mengubah manusia dewasa yang menerima begitu saja segalanya menjadi anak yang penuh dengan pertanyaan. Manusia dewasa yang menganggap tahu segalanya menjadi anak yang terus menerus belajar. Tepat, pertanyaan merupakan ciri terjadinya pembelajaran. Ingat teori gravitasi lahir dari sebuah pertanyaan sederhana tentang fenomena apel jatuh, sebuah fenomena yang sudah tidak pernah dipertanyakan lagi oleh orang-orang pada jamannya. Sebuah pertanyaan sederhana dapat melahirkan sebuah teori dan menghasilkan perubahan dunia. Semakin beragam pertanyaannya maka semakin banyak yang dipelajari seseorang.

***

Kedua prinsip tersebut, appreciative dan inquiry kemudian membentuk pendekatan yang disebut sebagai Appreciative Inquiry. Sebagaimana fusi antara hidrogen dan oksigen, seperti reaksi fusi inti nuklir, penggabungan antara appreciative dan inquiry melahirkan sebuah energi dahsyat yang mengkatalisasikan perubahan yang luar biasa. Proses fusi tersebut akan menyatukan energi dari setiap orang, mengikat energi itu dan mengubah menjadi daya dorong yang tidak terbayangkan. Forum yang awalnya dingin berubah menjadi hangat, seolah-olah energi alam melinggkupi forum tersebut, ketika orang-orang melakukan wawancara apresiatif dan bertukar cerita inspiratif.

Secara sederhana, Appreciative Inquiry dapat diartikan sebagai seni dan praktek bertanya yang memperkuat kapasitas manusia dan sistem manusia untuk menciptakan masa depan yang penuh dengan harapan. Secara lebih serius, Appreciative Inquiry adalah sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan. Appreciative Inquiry dapat diterapkan di berbagai bidang selama fokusnya adalah manusia dan sistem manusia. Sistem manusia dapat berarti manusia sebagai suatu mahluk yang utuh, dapat juga berarti keluarga, komunitas, kelompok, organisasi dan bahkan kota.

Appreciative Inquiry dikembangkan pertama kali oleh David Cooperrider dan Suresh Srivastva di Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio. Mereka berdua melakukan uji coba berbagai pendekatan action research untuk mengembangkan Cleveland Clinic, sebuah fasilitas perawatan kesehatan bertaraf-internasio nal. Mereka berdua melakukan wawancara yang terfokus pada faktor-faktor yang memberikan kontribusi bagi efektivitas organisasi. Proses wawancara ini kemudian memancing seluruh anggota organisasi membicarakan kisah-kisah keberhasilan organisasi secara antusias. Keberhasilan pendekatan awal ini yang kemudian menyebarluas ke seluruh penjuru dunia.

Dalam sepuluh tahun terakhir, Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia, seperti untuk mengubah budaya sebuah organisasi, melakukan transformasi komunitas, menciptakan pembaharuan organisasi, mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik. Dalam bidang sosial, Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas pinggiran, perubahan kota, membangun pemimpin religius, dan menciptakan perdamaian (Chapagai, 2000; der Haar dan Hosking, 2004; Bushe, 2005; Watkins, J., Mohr, B., 2001; Whitney, D., & Trosten-Bloom, A., 2002).

Dalam dunia pendidikan, Appreciative Inquiry digunakan untuk perubahan budaya, penyusunan rencana strategis dan perubahan proses pembelajaran. Dalam pengelolaan SDM, Appreciative Inquiry diterapkan untuk melakukan wawancara seleksi, membentuk model kompetensi, penilaian kinerja, coaching dan mentoring, serta membentuk tim kerja. Selain itu, Appreciative Inquiry diterapkan juga untuk penciptaan keluarga, desain pendidikan anak, terapi individu dan terapi kelompok (Bushe, 1998; Bushe dan Kassam, 2005; Watkins, J., Mohr, B., 2001; Whitney, D., & Trosten-Bloom, A., 2002).

***

Mari kita kembali pada pencarian kisah inspiratif, kembali pada perubahan dunia. Bagaimana cara appreciative inquiry menggali kisah inspiratif? Bagaimana cara appreciative inquiry menjadikan kisah inspiratif sebagai energi pengubah dunia? Cara appreciative inquiry ibarat penambang mencari dan mengubah biji emas untuh menciptakan dunia yang indah. Siklus cara appreciative inquiry biasa disebut sebagai siklus 5-D yaitu Definition, Discovery, Dream, Design dan Destiny.

Layaknya seorang penambang, langkah awalnya adalah menentukan apa yang menjadi fokus penambangan, apa yang mau ditambang? Langkah awal ini akan menentukan keseluruhan proses. Bila penambang itu menentukan emas maka emas yang akan didapatkan. Akan berbeda ketika ia memilih perak, perunggu, atau tanah.

Penambang selanjutnya akan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan proses penambangan. Penambang melakukan penambangan dan kemudian mendapatkan bijih-bijih emas dengan ukuran, bentuk dan kualitas yang variatif. Lalu bagaimana? Penambang akan berimajinasi tentang bentuk yang diinginkannya. Dengan segala bijih emas yang dimiliki, kondisi ideal macam apa yang dapat tercapai? Penambang akan berimajinasi, semisal tentang bentuk perhiasanan atau artefak lainnya dengan segala keindahan.

Penambang melanjutkan langkahnya. Ia menyusun desain untuk mengolah bijih emas menjadi bentuk yang diimpikan, mulai dari desain proses pembentukan, organisasi produksi, sistem jaminan mutunya dan yang lainnya. Apabila segalanya telah tersedia dan dipersiapkan, maka penambang mulai beraksi untuk mewujudkan impian dalam kehidupan nyata. Ia akan merayakan setiap keberhasilan dan mengembangkan keberhasilan itu.

Sebagaimana cerita penambang diatas, begitu pula langkah dasar dalam Appreciative Inquiry. Diawali dengan pemilihan pemilihan topik afirmatif, fokus perubahan yang diinginkan. Sebagaimana namanya, topik ini harus memancing minat semua untuk mencari tahu, mempelajari dan mengembangkan topik tersebut. Topik yang membangkitkan gairah, menyulut semangat kehidupan. Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud. Beberapa topik afirmatif adalah kepuasan kerja yang mengikat, penciptaan kehidupan yang harmonis, pembelajaran yang inspiratif.

Ambil contoh kita memilih topik afirmatif pasangan yang luar biasa. Langkah berikutnya, kita akan memasuki tahap Discovery yaitu melakukan wawancara apresiatif seputar topik afirmatif, –aktivitas appresiatif inquiry yang tak tergantikan. Tujuan utama wawancara ini adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang, pekerjaan dan organisasinya. Kreativitas praktisi appresiatif inquiry sangat diperlukan untuk menciptakan pertanyaan yang tajam, provokatif dan memancing lahirnya kisah inspiratif.

Semisal, “Ingatlah ketika aku dan kamu pertama kali jatuh cinta satu sama lain. Ceritakan pengalaman ketika engkau jatuh cinta pertama kali padaku! Apa yang membuatmu jatuh cinta?” Atau, “Setelah melewati beberapa waktu, perkawinan kita telah mengalami momen terbaik. Ceritakan mengenai momen-momen terbaik yang ingin kamu bekukan dan kamu ingin kembali mengalami momen tersebut. Apa yang kita lakukan? Apa yang membuat momen itu menjadi sempurna?”

Percaya atau tidak, pertanyaan-pertanya an tersebut dapat mengungkapkan kemisteriusan kehidupan manusia. Kita akan mendapatkan banyak jawaban-jawaban, biasanya dalam bentuk cerita, yang tidak terduga, yang luar biasa, yang “aneh”, yang “ajaib “, sisi lain yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Kita terkadang terharu, terkadang geli, terkadang tergugah ketika mendengarkan berbagai cerita tersebut. Cerita tersebut mengandung jiwa kehidupan bagi individu maupun organisasi, mengandung sesuatu yang membuat individu atau organisasi menjadi “hidup”. Jawaban atau cerita inspiratif ini kemudian kita kristalisasikan menjadi inti positif, aspek dalam sejarah kita yang paling berharga dan ingin dikembangkan di masa depan.

Setelah mendapatkan “emas” berupa cerita inspiratif, kita ditantang untuk berimajinasi tentang masa depan yang ideal. Proses tahap Dream ini biasanya dipandu dengan pertanyaan impian, sebagai pemancing untuk berimajinasi bebas. Semisal, “Pejamkan mata anda! Bayangkan kamu mengalami tidur panjang dan baru terbangun 10 tahun kemudian. Selama engkau tidur, dunia dan keluarga ini telah mengalami perubahan yang sangat positif, seluruh impian dan harapan anda terwujud. Ketika anda terbangun, apa yang engkau saksikan? Ceritakan secara rinci! Bagaimana pasanganmu, bagaimana anak kita, bagaimana keluarga kita?”

Pertanyaan impian ini harus memperluas kesadaran secara ruang dan waktu, mendorong orang berimajinasi tentang kehidupan bersama yang diimpikan pada masa yang akan datang. Pertanyaan impian ini biasanya menggugah, terkadang pula mengguncang, kesadaran kita semua. Dalam beberapa kejadian, pertanyaan impian ini tidak langsung terjawab. Walau demikian, pertanyaan impian ini seakan-akan menghentikan waktu kehidupan kita, dan mendorong kita untuk berpikir tentang arah kehidupan di masa mendatang.

Discovery dan Dream adalah dua tahap yang paling emosional dalam Appreciative Inquiry. Seluruh energi emosional dari peserta yang terlibat akan berkumpul dan mengubah pertemuan atau aktivitas yang berlangsung menjadi penuh dengan gairah kehidupan. Gabungan energi ini yang akan menjadi daya dorong bagi tahap-tahap selanjutnya. Dalam salah satu kesempatan, saya menawarkan kepada salah seorang sahabat serangkaian pertanyaan appreciative inquiry tentang pasangan yang luar biasa. Dan komentarnya sungguh luar biasa,

“……..pada saat yang sama aku juga bilangin kalo aku senang sekali waktu lihat dia main piano lagu Love Story sambil sesekali nengok ke aku…kayaknya gimana gitu…kamu tahu Bud….efeknya sampe sekarang untuk satu pertanyaan itu….kita jadi bermemori…ngingat masa lalu..dan sikap dia ke aku..wuih..( meski ga pake kata-kata sayang, wong dia gak bisa untuk hal itu) tapi body languangenya itu. Seperti saat tidur, care banget sama aku….suka usap-usap punggung…(hi..hi..) kalo kebangun tengah malam, nyempet-nyempetin cium kening aku sebelum dia lanjutin tidur lagi….weleh….

Aduh mengingat ini aku gigiku jadi ngilu…hi..hi…hi……”

(Email pada Kamis, 13 April 2006)

Reaksi berbeda terjadi pada orang yang berbeda. Seorang mahasiswa menuturkan bagaimana ia dicurigai pacarnya ketika mengajukan pertanyaan apresiatif. “apa maksudnya?”. “Nanti kamu GR kalau kujawab”. Akan tetapi pada akhirnya,

“….saya mencoba menerapkan berbicara AI dengan pasangan, hasilnya WOW !!!! luar biasa, saya jadi enak berbicara dengan pasangan saya, dan pasangan saya pun jadi enak mendengarnya, bahkan sampai keluar air mata terharu yang LUAR BIASA!!!”

(Email pada Kamis, 13 Juli 2006)

Selanjutnya, berdasarkan apa yang terbaik di masa lalu dan masa kini, serta impian kehidupan masa depan, maka kita kemudian mulai mendesain arsitektur kehidupan bersama kita. Kita menyusun prinsip-prinsip tentang bentuk organisasi, nilai, proses, hubungan antar pihak dan yang lainnya. Hasil dari tahap ini adalah sejumlah prinsip panduan, yang biasa disebut sebagai proposisi provokatif, untuk menentukan aksi atau tindakan yang akan kita lakukan.

Pada tahap terakhir dari siklus 5D, setiap anggota dibebaskan dan diberdayakan untuk mengajukan ide inovatif yang sesuai dengan hasil tahap sebelumnya. Ide inovatif yang disepakati didukung secara menyeluruh baik oleh anggota yang lain maupun oleh organisasi. Setiap anggota yang berminat mulai melakukan aksi dalam kehidupan nyata. Pada akhirnya, setiap keberhasilan dirayakan, disebarluaskan, dan dikembangkan pada keseluruhan organisasi.

Langkah siklus 5D Appreciative Inquiry sebenarnya sederhana. Selama kita bisa melepaskan diri dari wacana defisit dan mengubah cara pandang menjadi apresiatif. Kita bisa melakukan pembandingan antara langkah Appreciative Inquiry dengan langkah problem solving untuk semakin memudahkan pemahaman, sebagaimana bagan berikut:

Praktek appreciative inquiry adalah praktek yang mudah. Praktek itu dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun. Tidak perlu waktu dan ruang khusus. Bagi mereka yang pemula, bisa mencobanya di meja makan ketika makan malam bersama keluarga, dan mengubah makan malam itu menjadi pertemuan keluarga yang menggugah. Bisa dilakukan ketika kencan bersama pasangan, dan jadilah kencan paling romantis. Atau mulailah rapat dengan mengajukan pertanyaan, apa pengalaman terbaik dan keberhasilan kita minggu ini? Rapat akan berubah menjadi pertemuan yang menarik.

Praktek appreciative inquiry adalah praktek yang mudah. Setiap orang bisa mencari kisah-kisah inspiratif. Setiap orang bisa membangkitkan semangat kehidupan lingkungan sekitarnya. Setiap orang bisa mengajak orang-orang disekelilingnya menciptakan visi kehidupan mendatang. Setiap orang bisa mengubah dunia sesuai daya yang dimiliki dan terarah pada impian masa depan yang diinginkan. Tepat kiranya bila appreciative inquiry disebut sebagai jalan setiap orang untuk mengubah dunia, dan terus mengubah dunia. Pertanyaan apresiatif yang kita ajukan akan memframing orang lain, jawaban orang tersebut akan menginspirasi kita dan berputar berkembang begitu terus. Semua orang terhubung melalui perbincangan yang inspiratif untuk mengumpulkan energi positif dan mewujudkan semua impian.

“Ketika aku bermimpi sendiri, itu hanyalah sebuah mimpi.

Ketika kita bermimpi bersama, itu adalah awal sebuah kenyataan.

Ketika kita bekerja bersama, mengikuti mimpi kita, itu adalah penciptaan surga di dunia”

Peribahasa Brasil

***

024-7060.9694
johamdani@yahoo.comCatatan: Ini adalah kata pengantar buku the power of appreciative inquiry yang diterbitkan oleh B-first (Mizan Grup) pada awal 2007. Selamat menikmati!


Followers