Monday, January 4, 2010

Koneksikan Bisnis Anda ^_^

Zaman sekarang semua berjalan serba cepat. Untuk memberitahukan sesuatu kepada orang yang berjarak ribuan kilometer hanya dibutuhkan waktu beberapa detik saja. Tidak seperti dahulu yang membutuhkan waktu berhari-hari hanya untuk menunggu kiriman surat atau kartu post.

Cepatnya arus informasi dan komunikasi saat ini berpengaruh sangat besar terhadap cara orang menjalankan bisnisnya. Kalau dulu, orang mau bisnis, tinggal buka kios dipinggir jalan, lalu sediakan barang-barang yang akan dijual dan ditunggu dari pagi sampai sore, sudah beres. Konsumen tidak punya banyak pilihan, bahkan juga tidak tahu persis harga yang layak untuk produk itu sebenarnya berapa.

Contoh kecil saja, pada tahun 1998, toko komputer di Lampung bisa mendapatkan laba sampai 2,5 – 4 juta per unit. Tidak ada konsumen yang komplain harganya kemahalan, karena mereka tidak punya pembanding.

Dengan adanya internet, konsumen akan dengan mudah mencari spesifikasi yang sama secara detail dan membandingkan harga dari toko offline dengan toko online. Dengan demikian, konsumen tidak lagi bisa ‘dibohongi’.

Belum lagi pengusaha juga harus bertarung dengan toko offline lain yang merupakan jaringan bisnis nasional bahkan internasional. Tentu akan semakin menambah banyak pilihan bagi konsumen. Bisa dipastikan, akan sangat sulit mencari pelanggan sejati. Bisa jadi pagi ini belanja di toko kita, nanti sore belanja di toko lain.

Apa artinya?

Saat ini konsumen sudah terkoneksi dengan dunia yang lebih luas. Agar kita tetap surfive ditengah kompetisi yang semakin padat, tentu kita juga harus terkoneksi. Minimal terkoneksi dengan konsumen, kolega, supplier bahkan dengan kompetitor.

Terkoneksi dengan konsumen, artinya kita dengan mudah mengomunikasikan apa yang kita jual kepada konsumen. Dan yang paling penting adalah konsumen secara pribadi menerima pesan kita, mengerti apa yang kita komunikasikan dan mau secara sukarela bertindak seperti apa yang kita inginkan.

Contoh kecil, ada sebuah warung makan kecil di Bandar Lampung yang menerapkan koneksi seperti ini. Warung tersebut mendorong semua orang yang makan disitu untuk manjadi member. Warung tersebut memberikan diskon khusus untuk member setiap transaksi. Dengan membuat member, tentu mereka mengisi form aplikasi yang didalamnya terdapat nama lengkap, alamat ,nomor telephone, alamat email, agama, hobi dan lain-lain.

Untuk melakukan koneksi langsung kepada para membernya, warung tersebut menggunakan fasilitas SMS dan email setiap ada menu baru, saat ada program promosi baru, saat member tersebut ulang tahun dan ucapan selamat hari raya agamanya.

Apa yang bisa diambil pelajaran dari kasus ini?

Konsumen mendapatkan informasi jauh lebih banyak dan lebih cepat tentang warung ini dibandingkan dengan warung-warung lain disekitarnya. Konsumen juga akan tahu secara cepat spot diskon khusus untuk dirinya dengan menunjukkan SMS tersebut.

Kembali ke masalah koneksi, sebenarnya ada lagi pekerjaan besar yang bisa ditempuh untuk membentuk pelanggan fanatik, yaitu mengoneksikan satu pelanggan dengan pelanggan lain.

Slank dan Dewa 19 salah satu yang sukses mengoneksikan penggemarnya melalui wadah Slankers dan Baladewa. Mereka adalah penggemar fanatik yang selalu mengikuti perkembangan kedua band tersebut. Meraka juga ikut berjuang agar grup band kesayanganya tetap eksis, salah satunya menggunakan RBT (ring back tone) dan selalu membeli kaset originalnya.

Para Slangkers dan Baladewa ini memiliki identitas komunitas yang sangat kuat. Meski mereka berlainan provinsi dan tidak saling kenal, dengan mudah mereka akan melakukan pembelaan bersama-sama terhadap band kesayanganya.

Selain terkoneksi dengan konsumen, kita juga harus terkoneksi dengan kolega. Dalam bisnis selalu saja ada kolega yang secara langusung maupun tidak langsung membantu kemajuan bisnis kita. Meskipun mereka tidak berada dibawah manajemen kita, namun keberadaanya sangat vital.

Kolega bisnis bisa berupa orang atau badan usaha yang bergerak dibidang bisnis lain namun masih ada kaitanya dengan bisnis kita. Misalnya Hotel dengan Loundry, Developer Software dengan Toko Komputer, Konsultan Manajemen dengan penyedia Out Sourcing SDM dan Marketing Freelance.

Bahkan kadang kala kolega yang kita ajak kerja sama, bisa saja tidak berhubungan dengan bisnis yang kita jalani sama sekali. Biasanya ini digunakan untuk strategi Cross Marketing, Misalnya Supermarket dengan Bengkel Mobil, Salon, Spa dan Rumah Makan.

Kolega-kolega seperti diatas, sangat bermanfaat untuk membangun pasar baru atau untuk membersarkan pasar yang sudah ada. Oleh karenaya kita harus selalu terkoneksi dengan mereka untuk selalu mencari peluang apa yang bisa dikembangkan bersama untuk membesarkan bisnis bersama.

Koneksi berikutnya adalah dengan supplier. Ini adalah koneksi yang harus dijalankan dengan lancar. Tidak ada gunanya sama sekali kita melakukan pemasaran yang hebat, namun tidak didukung oleh supplai produk yang memadahi. Supplier juga biasanya dengan sukarela memberi kita tips dan trik agar produknya bisa laku keras. Mereka akan membagikan pengalaman salah satu konsumenya yang sukses kepada kita. Karena bagaimanapun, supplier juga berkepentingan terhadap penjualan produknya oleh kita.

Koneksi yang mungkin agak aneh adalah koneksi dengan kompetitor. Mengapa kita harus terkoneksi dengan kompetitor? Bukankan mereka adalah musuh yang harus dihancurkan?.

Kompetitor biasanya memiliki bidang bisnis yang sama dengan yang kita jalani. Dalam bisnis, meskipun masing-masing bersaing untuk menjadi pemenang, tapi selalu saja ada “musuh bersama” yang harus dihadapi. Untuk menghadapi musuh bersama ini tidak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Dibutuhkan power yang besar untuk bisa menghadapinya.

Misalnya saja para pebisnis retail yang selalu mengalami kesulitan dalam perijinan dan banyaknya pungutan-pungutan dari pihak pemerintah daerah. Untuk menghadapi ini mereka membentuk semacam asosiasi atau perkumpulan, agar memiliki bargaining position yang kuat dihadapan pemerintah daerah.

Contoh lain musuh bersama adalah masuknya jaringan bisnis nasional dan internasional ke daerah. Bagi para pengusaha di daerah, meraka adalah musuh bersama yang harus dihadapi, meskipun sebenarnya diantara mereka sendiri juga ada persaingan.

Dalam sebuah asosiasi, para kompetitor bisa melakukan sharing satu dengan yang lainya. Suatu yang hampir tidak mungkin dilakukan jika mereka tidak dalam satu organisasi.

So stay on connection and never loss connection with everyone.

Artikel telah disadur kembali oleh:
Joko Hamdani as Sejarawan Hamdina
024-7060.9694
D'professional historian with excellent entrepreneur skill.

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers