Wednesday, June 8, 2011

Plus Ultra!

“Coellum stellatum supra me, lex moralis intra me”– Immanuel Kant.

Langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku, itulah kata-kata yang tertulis di batu nisan Immanuel Kant, seorang pemikir besar Jerman yang hidup di abad ke-19. Baginya hukum moral itu hitam dan putih saja, tidak ada area abu-abu, etika deontologisnya adalah sebuah tugas hidup, ia bersifat imperatif-kategoris, tak ada tawar menawar.

***

Tersebutlah sebuah kapal dari East India Company (semacam VOC-nya Inggris dulu) sedang melintasi selat Gibraltar, peristiwa ini digambar sebagai ilustrasi buku Novum Organum-nya Francis Bacon, dengan tambahan di bawahnya tertera motto Plus Ultra yang artinya “lebih lagi”. Tentunya kata ini adalah simbolisasi gairah ekspansionisme dan imperialisme Inggris demi mengumpulkan modal (capital) dari tanah jajahannya. Di buku inilah Francis Bacon memuat tesisnya, knowledge is power.

***

Osama bin Laden tewas, dilansir bahwa di tempat persembunyiannya itu ditemukan juga pelbagai macam koleksi film porno. Wallahualam! Yang jelas hubungan diplomatik AS - Pakistan memanas. Amerika dipuji dan sekaligus dihujat dunia. Ada yang menyambut gembira kematian Osama, dan ada pula yang sebal. Namun di tengah euphoria serta kekalutan situasi bernuansa politis-ideologis ini, ternyatalah muncul kesempatan bisnis global.

Setelah pasukan khusus marinir AS memporakporandakan markas persembunyian Osama bin Laden, tak lama berselang Perdana Menteri Pakistan Yousof Raza Gilani bersama menteri pertahanannya Akhmad Mukhtar terbang ke China untuk menegosiasikan paket pembelian sekitar 50 pesawat jet tempur JF-17 Thunder Jets. Pesawat mesin tunggal dengan multi-role-fighter yang dikembangkan dalam kerjasama antara China dan Pakistan ini dibandrol pada kisaran harga US$20juta sampai $25juta per buah. Jadi transaksi ini bakal bernilai total sekitar US$1milyar sampai $1,25milyar.

Dominique Strauss-Kahn, chief of International Monetary Fund (IMF) terpaksa lengser dari jabatan prestisiusnya lantaran skandal pelecehan seksual di New York. Padahal lewat posisi ini ia telah menjadi kandidat kuat menuju kursi kepresidenan Perancis. Situasi kaotik di aras eksekutif ini mencuatkan beberapa nama kandidat untuk menggantikan tokoh kharismatik ini, termasuk Sri Mulyani Indrawati (mantan menkeu Indonesia dan sekarang salah satu direktur IMF).

Dan bisa dipastikan bahwa “perebutan” posisi ini bukanlah pertarungan individual.
Selain kapabilitas masing-masing individu, setiap negara asal kandidat telah mulai ‘kasak-kusuk’ kesana-kemari untuk menggolkan jagoannya masing-masing. Ada prestise nasional di kancah internasional disamping meningkatkan aksesibilitas ke pusat-pusat keuangan dunia. Ada tarik menarik kepentingan disini.

Akhirnya Lee Kuan Yew dan rekan mantan perdana menteri Goh Chok Tong mengundurkan diri dari kabinet pemerintah Singapura. Dalam komunike bersamanya dikatakan bahwa mereka ingin membuka jalan mulus bagi para pemimpin muda Singapura, “A younger generation wants to be more engaged in the decisions which affect them,” selanjutnya dikatakan, “The time has come for a younger generation to carry Singapore forward in a more difficult and complex situation.” Sebuah langkah politik etis dan dinilai elegan oleh pelbagai kalangan.

***

Kapital memang bisa mengalir kemana saja, senantiasa mencari ceruk-ceruk kesempatan dimana pun berada, betapa pun kaotiknya peristiwa yang melingkupinya.

Namun juga ada dimensi lain yang penting, yaitu aspek kekuasaan sosial dari kapital. David Harvey (bukunya: The Enigma of Capital and The Crises of Capitalism, Profile Books - London, 2010) dengan lugas mengatakan, “There is, however, another motivation to reinvest. Money is a form of social power that can be appropriated by private persons. Furthermore, it is a form of social power that has no inherent limit. There is a limit to the amount of land I can posses, of the physical assets I can command.

Imelda Marcos had 6,000 pairs of shoes, it was discovered, after the overthrow of her husband’s dictatorship in the Philippines, but that still constituted a limit in the same way that the very rich cannot own billions of dollars an individual can command. The limitlessness of money, and the inevitable desire to command the social power it confers, provides an abundant range of social and political incentives to want more of it. And one of the key ways to get more of it is to reinvest a part of the surplus funds gained yesterday to generate more surplus tomorrow. There are, sad to say, many other ways to amass the social power that money commands: fraud, corruption, banditry, robbery and illegal trafficking.”

Segenap penghuni planet bumi terus bergerak, dalam format arus orang, arus barang, arus uang dan arus informasi. Rentangnya bukan lagi domestik namun mondial, dan yang juga penting adalah akselerasi percepatan geraknya. Dan saat ini kita semakin jelas membaca konturnya bahwa yang menjadi kausa penggerak semuanya ini adalah hasrat akumulasi kapital berskala global. Lalu apakah hasrat ini bisa menjadi tujuan yang bakal menghalalkan secara cara untuk mencapainya? Di sini sebuah pertanyaan etis (global ethics) menyeruak menuntut jawaban.

Hans Kung (A Global Ethics for Global Politics and Economics, 1997) menegaskan, tak ada budaya bisnis tanpa budaya kepribadian! “Budaya bisnis, selalu penting dan memiliki relevansi strategis, pada akhirnya terdiri dari totalitas sikap ketegasan, nilai, kriteria, norma dan pola perilaku manajemen dan pekerja dalam sebuah bisnis. Sebuah bisnis terdiri atas orang, dan karena itu budaya bisnis mensyaratkan budaya kepribadian.” Kalau begitu, kepada setiap kitalah pertanyaan itu terarah, yang jawabannya dituntut dengan semakin segera pula.

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers