Tuesday, July 6, 2010

Pemasaran Hasrat Konsumen Global

“Kemampuan kultur untuk memainkan peran bagi perubahan atau resistansi, dapat dimungkinkan jika ada hasrat tertentu. Pada titik ini, hasrat lebih berkuasa dibanding pengetahuan sehingga kita harus menempatkannya sebagai focal point dari kritik kultural jika ingin memahami bagaimana fenomena kultural menggerakkan orang.” – Audifax (dalam: “Antara Hasrat Menjadi dan Hasrat Memiliki”, 2006).

***

Ditengarai lewat pemberitaan majalah Forbes bahwa pertumbuhan jumlah milyuner di kawasan Asia-Pasifik adalah sebesar 80% di tahun 2009 (Koran KONTAN, 18 Maret 2010). Sehingga Porsche Design, sebuah perusahaan “produsen gaya hidup” (life-style producer) melansir ponsel khusus untuk melengkapi kemewahan mobil Porche-nya. Ponsel yang dibanderol seharga US$1,636 (sekitar Rp.16juta) telah diintroduksi ke publik Singapura. Terbuat dari bahan kombinasi alumunium anodized hitam dan kaca mineral hitam, lengkap dengan fitur sensor sidik jari. Dipilihnya Singapura beriringan langkah dengan dibukanya dua kasino besar yang bakal menyedot turis asing dari kawasan sekitar (flow of people & flow of money). Pemuasan hasrat judi sekaligus hasrat membeli barang mewah.

Fenomena lainnya adalah tentang TV 3D (tiga dimensi) keluaran Panasonic yang laris manis di pasaran Amerika Serikat. Dalam waktu seminggu sejak diluncurkan 10 Maret lalu, stok TV 3D yang dijual seharga US$2,899 atau sekitar Rp.28juta per unit (sudah termasuk sepasang kacamata dan blue-ray player) ini ludes diserap pasar. Target penjualan tahun 2010 di pasar AS ini dipatok sebesar 1 juta unit. Panasonic Corp bersaing ketat dengan tiga pemain elektronik raksasa lainnya, Sony, Samsung dan LG untuk melengkapi infrastruktur pemuasan hasrat akan kenikmatan dan hiburan dari masyarakat konsumen global di
Amerika.

Di sisi content hiburannya, Sony dikabarkan tengah mengincar hak distribusi film James Bond, si agen 007, dari Metro Goldwyn Mayer Inc yang bermarkas di Los Angeles. Caranya dengan menawarkan dirinya sebagai mitra produksi (strategic partner) bagi MGM yang saat ini memang sedang dililit kesulitan keuangan lantaran beban hutang sebesar US$ 3,7 milyar. Tekanan ini semakin berat karena hutang sejumlah US$ 1 milyar bakal jatuh tempo di Juni 2011, dan sisanya sebesar US$ 2,7 milyar adalah pinjaman yang bakal jatuh tempo di tahun 2012. MGM memang layak diincar karena ia pemegang hak siar film James Bond yang memang jadi blockbuster pemasaran global, film The Hobbit plus sekitar 4000an judul film lainnya.

***

Ketiga entitas global di atas (Porsche, Panasonic dan Sony) adalah contoh par excellence dari pemasar yang piawai melihat dan mengapitalisasi celah untuk penyediaaan infrastruktur penyaluran hasrat libidinal konsumen global yang telah dicuci-otaknya oleh perekayasa budaya kelas kakap bernama Hollywood-Bollywood -Disney,
Paris dan Las Vegas. Porsche, Panasonic dan Sony adalah sebagian dari tanda-tanda (umbul-umbul) global yang mencuat di tengah arena perang pemasaran. Marketing war saat ini dipahami sebagai suatu pertarungan untuk bisa jadi yang paling hebat memuaskan hasrat konsumen dan produsen sekaligus, terus menerus tanpa spasi.

Kancah di mana konsumen dan produsen ini berada (exist) telah dan tengah mengalami sekaligus perampatan dan pembentangan ruang dan waktu (spatio-temporal) . Inilah yang dipahami sebagai fenomena globalisasi. Inilah faktisitas konsumen dan produsen abad 21 (modern dan postmodern).

Dan “pertarungan” untuk jadi yang paling bisa memuaskan hasrat ini akan berlangsung tanpa jeda, namun apakah juga tanpa akhir? Pertanyaan teleologis-etis semacam ini mungkin bisa diterangi lewat alegori. Dongeng Yunani karangan Ovid bercerita tentang seorang pedagang kayu kaya raya bernama Eriscychthon (baca: Er-is-ya-thon) . Seperti diceritakan kembali oleh Danah Zohar & Ian Marshal (Spiritual Capital, 2004),
Eriscychthon adalah antagonis serakah yang cuma berpikir soal profit dan pemuasan hasrat yang tanpa kendali, baginya tak ada yang sakral.

Alkisah di negerinya ada sebuah pohon istimewa kesayangan para dewa. Doa-doa orang yang percaya diikatkan di tiap cabangnya dan dipercayai bahwa arwah-arwah suci bergentayangan dan menari di seputaran batangnya yang perkasa. Namun Eriscychthon tidak peduli, ia melirik pohon itu sambil menaksir berapa kira-kira jumlah kayu yang bisa dia peroleh. Lalu ia ambil kapak dan mulai menebang. Tanpa ambil pusing terhadap protes yang datang bertubi-tubi ia terus menebang sampai pohon itu berderak dan akhirnya roboh, sehingga seluruh kehidupan sakral yang tinggal di situ murca.

Akan tetapi, salah satu dari para dewa sempat menjatuhkan kutuk akibat keserakahan Eriscychthon, bahwa mulai saat itu ia akan terus dirasuki rasa lapar yang tak tertanggungkan. Maka oleh karenanya ia mulai memakan persediaannya, lantas ia ubah juga semua kekayaannya menjadi sesuatu bisa dikonsumsi. Hasratnya belum terpuaskan juga, dan astagfirullah ia mulai menyantap istri dan anak-anaknya. Di akhir tragedi itu, Eriscychthon tidak punya apa-apa lagi selain dirinya sendiri, dan – masyaallah – akhirnya ia memakan dirinya sendiri.

Itukah ujung konsumtivisme? Wallahuallambishawa b. Tapi yang jelas, ini juga bukan kibulan di awal April (April Mob).

024-7060.9694
maspank@yahoo.com


No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers