Tuesday, August 25, 2009

Mind Manipulation History

Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) yang pertama kali
menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata.

Ibarat komputer, mind atau ”gugusan pikiran” manusia dapat dimanipulasi,
dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh
jaringannya.

*Perilaku manusia*

Dalam otobiografinya (Mein Kampf), Hitler menulis,

> ”Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila hal yang
> terpenting tidak diperhatikan. Yaitu, membatasi kata-kata dan memperbanyak
> pengulangan.”
>

Kemungkinan besar, Hitler telah mempelajari penemuan Pavlov, ilmuwan asal
Rusia dan peraih hadiah Nobel 1904 untuk psikologi dan ilmu medis. Melalui
teorinya tentang conditioned reflex atau involuntary reflex action, sang
ilmuwan membuktikan, *”perilaku manusia dapat diatur atau dikondisikan” *sesuai
”proses pembelajaran yang diperolehnya”.

Sebenarnya Pavlov terinspirasi oleh law of association atau ”*hukum
keterkaitan*” yang banyak dibahas para pujangga dan ilmuwan sebelumnya.

Menurut hukum itu, ”*suatu kejadian*” dalam hidup manusia atau bentuk
kehidupan lain —tetapi tidak terbatas pada hewan dan tumbuhan—dapat
dikaitkan dengan ”*keadaan*” atau ”*perangsang*” atau ”*apa saja*” yang
sebenarnya tidak terkait secara langsung dengan kejadian itu.

Ketika seekor anjing diberi makanan, ia mengeluarkan air liur. Ini disebut
refleks yang lazim atau unconditioned reflex. Ia tak perlu menjalani proses
pembelajaran.

Namun, pada saat yang sama bila dibunyikan lonceng, terjadilah proses
pembelajaran. Anjing itu mulai ”mengaitkan” bunyi lonceng dengan makanan dan
air liurnya.

Setelah beberapa kali mengalami kejadian serupa, maka saat mendengar bunyi
lonceng, air liurnya keluar sendiri meski tidak diberi makanan. Ini disebut
conditioned reflex, refleks tak lazim. Keluarnya air liur itu tidak lazim,
tidak ada makanan. Namun, ia tetap mengeluarkan air liur.

Pembelajaran ini harus diulang beberapa kali agar ”*keterkaitan*” yang
dihendaki tertanam dalam gugusan pikiran atau mind hewan, atau... manusia!

Maka, tak salah bila Adolf Hitler menganjurkan ”*pengulangan*”. Dalam ilmu
psikologi dan neurologi modern, pengulangan atau repetition juga dikaitkan
dengan intensity. Apa yang hendak ditanam harus terus diulangi secara
intensif.

Demikian bila seekor anjing dapat mengeluarkan air liur yang sesungguhnya
tak lazim, manusia pun dapat dikondisikan, dipengaruhi untuk berbuat sesuatu
di luar kemauannya.

*Pengulangan*
Presiden Franklin Delano Roosevelt pernah menyangkal,

> ”Pengulangan tidak dapat mengubah kebohongan menjadi kebenaran.”
>
Betul, tetapi pengulangan dapat membuat orang percaya pada kebohongan.

Hitler membuktikan keabsahan sebuah pepatah lama dari Tibet,

> ”Bila diulangi terus-menerus, kebohongan pun akan dipercayai orang.”
>

Di antara kita mungkin ada yang masih ingat kasus iklan Old Joe yang
digunakan produsen rokok merek Camel pada tahun 1988. Saat itu, tokoh kartun
tersebut memang amat populer di kalangan remaja. Jelas, sang produsen ingin
membidik kelompok itu. Dan, mereka berhasil. Jumlah perokok remaja langsung
bertambah.

Saat itu, warga Amerika Serikat yang konon super power pun tidak sadar bila
gugusan pikiran mereka sedang dimanipulasi melalui iklan yang ditayangkan
berulang kali setiap hari dan di banyak media.

Hampir 10 tahun kemudian, setelah muncul desakan dari masyarakat dan LSM-LSM
yang ”*sadar*”, Federal Trade Commission dan Kongres AS baru tercerahkan dan
menyatakan bahwa periklanan seperti itu tidak etis dan tidak bermoral.

Camel pun mengalah dan menarik kembali iklan itu pada 1997. Hampir satu
dekade setelah iklan yang tidak etis dan tidak bermoral itu berjalan dan
menelan sekian banyak korban remaja. Sungguh amat disayangkan, ”periklanan
yang tidak etis dan tidak bermoral” seperti ini pun terjadi di negeri kita,
baik selama kampanye pemilihan umum maupun pemilihan presiden.

Saat saya membahas hal ini dengan seorang teman baik di salah satu lembaga
negara yang memiliki wewenang untuk menjatuhkan sanksi kepada para pelaku,
ia pun mengeluh: ”Apa yang dapat kami lakukan bila tidak ada keluhan dari
masyarakat?”

Siapakah masyarakat yang dimaksud?

Anda, dan saya. Adakah keberanian untuk bersuara bila keberhasilan yang
dicapai, atau kemenangan yang diraih dengan memanipulasi gugusan pikiran dan
otak sesama warga bangsa? Keberhasilan dan kemenangan seperti itu semu
adanya.

Saya berharap, saya berdoa, agar para menteri kita dalam kabinet mendatang,
para wakil rakyat, anggota MPR, dan pejabat lain, termasuk yang duduk dalam
KPU dan MK, Presiden, Wakil Presiden, dan rakyat Indonesia, sesama warga
negara, senantiasa diberkahi pikiran dan perasaan yang jernih. Tidak saling
memanipulasi dan mengeksploitasi, tetapi saling membantu untuk membangun
Indonesia Baru yang lebih beradab, lebih sopan, lebih santun, lebih
manusiawi.

Giliran Anda bertindak sesuai dengan nurani Anda.

*Anand Krishna Aktivis Spiritual; Penulis Lebih dari 120 Buku*

Sejarah dan prasejarah

Dulu, penelitian tentang sejarah terbatas pada penelitian atas catatan tertulis atau sejarah yang diceritakan.

Akan tetapi, seiring dengan peningkatan jumlah akademik profesional serta pembentukan cabang ilmu pengetahuan yang baru sekitar abad ke-19 dan 20, terdapat pula informasi sejarah baru. Arkeologi, antropologi, dan cabang-cabang ilmu sosial lainnya terus memberikan informasi yang baru, serta menawarkan teori-teori baru tentang sejarah manusia. Banyak ahli sejarah yang bertanya: apakah cabang-cabang ilmu pengetahuan ini termasuk dalam ilmu sejarah, karena penelitian yang dilakukan tidak semata-mata atas catatan tertulis? Sebuah istilah baru, yaitu nirleka, dikemukakan. Istilah "prasejarah" digunakan untuk mengelompokkan cabang ilmu pengetahuan yang meneliti periode sebelum ditemukannya catatan sejarah tertulis.

Pada abad ke-20, pemisahan antara sejarah dan prasejarah mempersulit penelitian. Ahli sejarah waktu itu mencoba meneliti lebih dar sekadar narasi sejarah politik yang biasa mereka gunakan. Mereka mencoba meneliti menggunakan pendekatan baru, seperti pendekatan sejarah ekonomi, sosial, dan budaya. Semuanya membutuhkan bermacam-macam sumber. Di samping itu, ahli prasejarah seperti Vere Gordon Childe menggunakan arkeologi untuk menjelaskan banyak kejadian-kejadian penting di tempat-tempat yang biasanya termasuk dalam lingkup sejarah (dan bukan prasejarah murni). Pemisahan seperti ini juga dikritik karena mengesampingkan beberapa peradaban, seperti yang ditemukan di Afrika Sub-Sahara dan di Amerika sebelum kedatangan Columbus.

Akhirnya, secara perlahan-lahan selama beberapa dekade belakangan ini, pemisahan antara sejarah dan prasejarah sebagian besar telah dihilangkan.

Sekarang, tidak ada yang tahu pasti kapan sejarah dimulai. Secara umum sejarah diketahui sebagai ilmu yang mempelajari apa saja yang diketahui tentang masa lalu umat manusia (walau sudah hampir tidak ada pemisahan antara sejarah dan prasejarah, ada bidang ilmu pengetahuan baru yang dikenal dengan Sejarah Besar). Kini sumber-sumber apa saja yang dapat digunakan untuk mengetahui tentang sesuatu yang terjadi di masa lampau (misalnya: sejarah penceritaan, linguistik, genetika, dan lain-lain), diterima sebagai sumber yang sah oleh kebanyakan ahli sejarah.

Catatan sejarah

Ada banyak alasan mengapa orang menyimpan dan menjaga catatan sejarah, termasuk: alasan administratif (misalnya: keperluan sensus, catatan pajak, dan catatan perdagangan), alasan politis (guna memberi pujian atau kritik pada pemimpin negara, politikus, atau orang-orang penting), alasan keagamaan, kesenian, pencapaian olah raga (misalnya: rekor Olimpiade), catatan keturunan (genealogi), catatan pribadi (misalnya surat-menyurat), dan hiburan.

Ahli sejarah mendapatkan informasi mengenai masa lampau dari berbagai sumber, seperti catatan yang ditulis atau dicetak, mata uang atau benda bersejarah lainnya, bangunan dan monumen, serta dari wawancara (yang sering disebut sebagai "sejarah penceritaan", atau oral history dalam bahasa Inggris). Untuk sejarah modern, sumber-sumber utama informasi sejarah adalah: foto, gambar bergerak (misalnya: film layar lebar), audio, dan rekaman video. Tidak semua sumber-sumber ini dapat digunakan untuk penelitian sejarah, karena tergantung pada periodeyang hendak diteliti atau dipelajari. Penelitian sejarah juga bergantung pada historiografi, atau cara pandang sejarah, yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Namun dalam penulisan sejarah, sumber-sumber tersebut perlu dipilah-pilah. Metode ini disebut dengan kritik sumber. Kritik sumber dibagi menjadi dua macam, yaitu ekstern dan intern. Kritik ekstern adalah kritik yang pertama kali harus dilakukan oleh sejarawan saat dia menulis karyanya, terutama jika sumber sejarah tersebut berupa benda. Yakni dengan melihat validisasi bentuk fisik karya tersebut, mulai dari bentuk, warna dan apa saja yang dapat dilihat secara fisik. Sedang kritik intern adalah kritik yang dilihat dari isi sumber tersebut, apakah dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.

Wawancara juga dipakai sebagai sumber sejarah. Namun perlu pula sejarawan bertindak kritis baik dalam pemilahan narasumber sampai dengan translasi ke bentuk digital atau tulisan.

Historiografi

Historiografi adalah adalah ilmu yang meneliti dan mengurai informasi sejarah berdasarkan sistem kepercayaan dan filsafat. Walau tentunya terdapat beberapa bias (pendapat subjektif) yang hakiki dalam semua penelitian yang bersifat historis (salah satu yang paling besar di antaranya adalah subjektivitas nasional), sejarah dapat dipelajari dari sudut pandang ideologis, misalnya: historiografi Marxisme.

Ada pula satu bentuk pengandaian sejarah (spekulasi mengenai sejarah) yang dikenal dengan sebutan "sejarah virtual" atau "sejarah kontra-faktual" (yaitu: cerita sejarah yang berlawanan -- atau kontra -- dengan fakta yang ada). Ada beberapa ahli sejarah yang menggunakan cara ini untuk mempelajari dan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang ada apabila suatu kejadian tidak berlangsung atau malah sebaliknya berlangsung. Hal ini mirip dengan jenis cerita fiksi sejarah alternatif.

Metode kajian sejarah

Ahli-ahli sejarah terkemuka yang membantu mengembangkan metode kajian sejarah antara lain: Leopold von Ranke, Lewis Bernstein Namier, Geoffrey Rudolf Elton, G. M. Trevelyan, dan A. J. P. Taylor. Pada tahun 1960an, para ahli sejarah mulai meninggalkan narasi sejarah yang bersifat epik nasionalistik, dan memilih menggunakan narasi kronologis yang lebih realistik.

Ahli sejarah dari Perancis memperkenalkan metode sejarah kuantitatif. Metode ini menggunakan sejumlah besar data dan informasi untuk menelusuri kehidupan orang-orang dalam sejarah.

Ahli sejarah dari Amerika, terutama mereka yang terilhami zaman gerakan hak asasi dan sipil, berusaha untuk lebih mengikutsertakan kelompok-kelompok etnis, suku, ras, serta kelompok sosial dan ekonomi dalam kajian sejarahnya.

Dalam beberapa tahun kebelakangan ini, ilmuwan posmodernisme dengan keras mempertanyakan keabsahan dan perlu tidaknya dilakukan kajian sejarah. Menurut mereka, sejarah semata-mata hanyalah interpretasi pribadi dan subjektif atas sumber-sumber sejarah yang ada. Dalam bukunya yang berjudul In Defense of History (terj: Pembelaan akan Sejarah), Richard J. Evans, seorang profesor bidang sejarah modern dari Univeritas Cambridge di Inggris, membela pentingnya pengkajian sejarah untuk masyarakat.

Etimologi

Kata sejarah secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah disebut tarikh (تاريخ ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah waktu atau penanggalan. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu atau orang pandai. Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia. Kata lain yang mendekati acuan tersebut adalah Geschichte yang berarti sudah terjadi.

Belajar dari Sejarah

Sejarah adalah topik ilmu pengetahuan yang sangat menarik. Tak hanya itu, sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting, terutama mengenai: keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin kita, sistem perekonomian yang pernah ada, bentuk-bentuk pemerintahan, dan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah.

Dari sejarah, kita dapat mempelajari apa saja yang mempengaruhi kemajuan dan kejatuhan sebuah negara atau sebuah peradaban. Kita juga dapat mempelajari latar belakang alasan kegiatan politik, pengaruh dari filsafat sosial, serta sudut pandang budaya dan teknologi yang bermacam-macam, sepanjang zaman.

Salah satu kutipan yang paling terkenal mengenai sejarah dan pentingnya kita belajar mengenai sejarah ditulis oleh seorang filsuf dari Spanyol, George Santayana. Katanya: "Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya."

Filsuf dari Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengemukakan dalam pemikirannya tentang sejarah: "Inilah yang diajarkan oleh sejarah dan pengalaman: bahwa manusia dan pemerintahan tidak pernah belajar apa pun dari sejarah atau prinsip-prinsip yang didapat darinya." Kalimat ini diulang kembali oleh negarawan dari Inggris Raya, Winston Churchill, katanya: "Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya."

Winston Churchill, yang juga mantan jurnalis dan seorang penulis memoar yang berpengaruh, pernah pula berkata "Sejarah akan baik padaku, karena aku akan menulisnya." Tetapi sepertinya, ia bukan secara literal merujuk pada karya tulisnya, tetapi sekadar mengulang sebuah kutipan mengenai filsafat sejarah yang terkenal: "Sejarah ditulis oleh sang pemenang." Maksudnya, seringkali pemenang sebuah konflik kemanusiaan menjadi lebih berkuasa dari taklukannya. Oleh karena itu, ia lebih mampu untuk meninggalkan jejak sejarah -- dan pemelesetan fakta sejarah -- sesuai dengan apa yang mereka rasa benar.

Pandangan yang lain lagi menyatakan bahwa kekuatan sejarah sangatlah besar sehingga tidak mungkin dapat diubah oleh usaha manusia. Atau, walaupun mungkin ada yang dapat mengubah jalannya sejarah, orang-orang yang berkuasa biasanya terlalu dipusingkan oleh masalahnya sendiri sehingga gagal melihat gambaran secara keseluruhan.

Masih ada pandangan lain lagi yang menyatakan bahwa sejarah tidak pernah berulang, karena setiap kejadian sejarah adalah unik. Dalam hal ini, ada banyak faktor yang menyebabkan berlangsungnya suatu kejadian sejarah; tidak mungkin seluruh faktor ini muncul dan terulang lagi. Maka, pengetahuan yang telah dimiliki mengenai suatu kejadian di masa lampau tidak dapat secara sempurna diterapkan untuk kejadian di masa sekarang. Tetapi banyak yang menganggap bahwa pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena pelajaran sejarah tetap dapat dan harus diambil dari setiap kejadian sejarah. Apabila sebuah kesimpulan umum dapat dengan seksama diambil dari kejadian ini, maka kesimpulan ini dapat menjadi pelajaran yang penting. Misalnya: kinerja respon darurat bencana alam dapat terus dan harus ditingkatkan; walaupun setiap kejadian bencana alam memang, dengan sendirinya, unik.

Share it

Meta Google SEO

Kirim Komentar